Bagi masyarakat Tionghoa, terutama yang beragama Khonghucu perayaan Tahun Baru Imlek merupakan sebuah momentum yang sangat penting dan disambut dengan kemeriahan dan nuansa suka-cita. Tak terkecuali, perayaan Tahun Baru Imlek 2561 yang kebetulan jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, seluruh masyarakat Tionghoa mulai bersiap untuk menyambut momentum yang sangat diharap-harapkan tersebut.

Masyarakat Tionghoa terlihat mulai membersihkan kelenteng, altar persembahan, patung-patung "Kongco" (dewa), dan seluruh ornamen yang ada di kelenteng, untuk menghormati para dewa yang mereka yakini.

Tradisi yang dinamakan bersih-bersih kelenteng tersebut rupanya tidak dapat sembarang waktu dapat dilakukan, sebab baru dapat dilakukan setelah para dewa yang tinggal di patung "Kongco" itu naik ke kahyangan.

Mereka meyakini bahwa para dewa akan naik ke kahyangan untuk melaporkan semua kejadian yang dicatatnya sepanjang tahun, dan momentum kenaikan para dewa itu terjadi setiap tanggal 24 bulan 11 penanggalan China.

"Setelah para dewa naik ke kahyangan, kegiatan bersih-bersih kelenteng baru bisa dilakukan oleh umat," kata Lidwina, salah satu Lo Cu (pemimpin sembahyang) Kelenteng Tay Kak Sie Semarang.

Menurut dia, para dewa akan melaporkan keadaan yang terjadi selama ini, dan saat kenaikan para dewa ke kahyangan itu dinamakan "Sang Sin", kemudian mereka akan kembali lagi ke bumi setelah tahun baru.

Seluruh kelenteng yang ada di Kota Lumpia memang memperlihatkan aktivitas para umat dalam membersihkan kelenteng, seperti di Kelenteng Tay Kak Sie, Kelenteng Sio Hok Bio, dan Kelenteng Gedung Batu Semarang.

"Bersih-bersih kelenteng ini harus sudah selesai sebelum dewa kembali lagi ke bumi, yakni pada tanggal 4 bulan 1 tahun depan. Saat kembalinya para dewa tersebut dinamakan 'Sin Cia'," katanya.

Ia menyebutkan, ada sekitar 20 patung "Kongco" yang berada di Kelenteng Tay Kak Sie, dan setiap "Kongco" setidaknya memiliki dua Lo Cu, yakni Cia Lo Cu atau Hu Lo Cu yang bertugas merawat dan membersihkannya.

Air yang digunakan untuk membersihkan patung "Kongco" pun tidak boleh sembarangan, biasanya air hujan yang ditadahkan langsung dari langit atau air sumur yang terletak di setiap kelenteng.

"Kami telah melakukan tradisi bersih-bersih kelenteng menjelang Imlek ini setiap tahun, dan hingga saat ini tradisi bersih-bersih kelenteng masih tetap berlangsung," kata Lidwina.

Pengamat kebudayaan Tionghoa, H. A. S Pratana menilai, kegiatan bersih-bersih kelenteng tersebut merupakan tradisi yang sudah ada secara turun temurun, tidak hanya sebatas kelenteng, melainkan juga rumah masing-masing.

"Hanya saja, tradisi bersih-bersih rumah bisa dilakukan sebelum bersih-bersih kelenteng, dan ada ritual lain yang harus dilakukan untuk menyambut 'Sang Sin' dan 'Sin Cia'," katanya.

Saat para dewa naik atau "Sang Sin", katanya, umat harus melakukan ritual membakar "Hun Bhe Coa", yakni semacam kertas yang bergambarkan sarana transportasi, seperti kuda dan tandu. Demikian juga saat "Sin Cia".

"Hal ini melambangkan sarana transportasi untuk mengantarkan ke kahyangan, bukan sarana untuk para dewa, namun sarana bagi manusia yang 'nunut' (menumpang) para dewa tersebut," katanya.

Biasanya, kata dia, ritual bersih-bersih rumah ataupun kelenteng dilakukan sejak sekitar satu minggu sebelum perayaan Imlek, tepatnya tanggal 24 bulan 12 penanggalan China atau menjelang akhir tahun.

Menjelang Tahun Baru Imlek, umat diharuskan melakukan sembahyang akhir tahun atau dinamakan dengan "Ji Kau Meh", di antaranya ditujukan untuk mendoakan para orang tua yang sudah meninggal dunia.

"Umat juga harus melakukan sembahyang tahun baru yang dilakukan mulai pagi pada tanggal 1 bulan 1 penanggalan China, dan dilanjutkan dengan ritual Pay Cia, yakni sungkem atau hormat pada orang tua," katanya.

Menurut dia, ritual tersebut dilakukan kepada para orang tua yang masih hidup, berbeda dengan ritual "Ji Kau Meh" pada akhir tahun yang ditujukan untuk orang tua yang telah meninggal dunia.

"Biasanya, pada puncak perayaan tahun akan diiringi dengan tabuhan bedug dan genta secara bersahut-sahutan, yang dimulai saat tahun baru, kebetulan waktu di Indonesia menyesuaikan pada pukul 23.00 WIB," katanya.

Pada saat hari pertama Tahun Baru Imlek, kebanyakan diisi dengan makan-makan dengan seluruh keluarga, selain "Pay Cia" atau sungkem kepada orang tua. "Saat ini, banyak anak muda yang tidak melakukan 'Pay Cia'," katanya.

Ia menilai, banyak anak muda yang tidak mengerti tentang filosofi ajaran Konghucu, termasuk makna ritual-ritual dalam perayaan Imlek, padahal saat ini masyarakat Tionghoa telah diberi kebebasan oleh pemerintah.

"Segala aktivitas yang berbau Tionghoa memang sempat dilarang saat pemerintahan Soeharto, namun saat itu sebenarnya pemerintah hanya mampu melarang secara kulit luarnya," katanya.

Masyarakat Tionghoa tetap bersatu di dalam pembatasan dan pelarangan itu, dan justru di saat itulah rasa kebersamaan sebagai orang yang senasib dan sepenanggungan muncul dan menguat.

"Di saat masyarakat Tionghoa sudah mengenyam kebebasan, terutama sejak kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), rasa kebersamaan sudah mulai luntur tergantikan dengan sikap individualistik," kata pria bernama asli Tan Hing Tiong.


Makna dan Perlambang Sesaji

Setiap sesaji atau persembahan yang diberikan kepada para dewa ternyata mengandung makna filosofis tinggi, dan penentuan jenis sesajinya tidak boleh dilakukan secara sembarangan, ada perlambangnya masing-masing.

Pratana menyebutkan, umat Konghucu sering menggunakan "Ti Kue" atau kue keranjang, yang terbuat dari tepung beras. Kue tersebut sebenarnya merupakan makanan musim dingin, saat musim hujan dan tanah tidak dapat ditanami.

"Kue keranjang dibuat melalui beberapa proses pengolahan yang membuatnya sanggup bertahan lama. Setidaknya kue keranjang dapat bertahan dan tidak basi hingga sekitar setengah tahun," katanya.

Perlambang kue keranjang yang sifatnya lengket dan rasanya manis, adalah mempererat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan, serta membuat hidup terasa manis atau bahagia.

"Ada juga 'Hwat Kue' yang dikenal dengan nama kue mangkok atau kue moho, memiliki bentuk seperti bunga yang mekar melambangkan rejeki manusia yang diharapkan selalu mekar dan berkembang," katanya.

Ia menyebutkan, sesaji berikutnya adalah kue berbentuk kura-kura yang dinamakan "Toa Ku", sebab kura-kura merupakan binatang yang memiliki umur paling panjang dibandingkan hewan lainnya, dan sebagai lambang keabadian.

Tumpeng ternyata tidak hanya ada dalam tradisi Jawa, sebab umat Konghucu juga diharapkan memberikan sesaji berupa kue berbentuk tumpeng yang terbuat dari wajik dan dinamakan "Mbi Ko".

"Ujung meruncing tumpeng melambangkan manusia harus selalu ingat kepada Yang Di Atas, sebab manusia itu bersumber pada satu kekuatan, meskipun di pangkal tumpeng menunjukkan bentuk yang melebar," katanya.

Dari golongan buah-buahan yang dijadikan sesaji, ternyata terdapat beberapa nama buah yang banyak dikenal, seperti jeruk, apel, pisang emas, pisang raja, nanas, manggis, dan sebagainya. "Buah naga justru tidak masuk," katanya.

Pisang memiliki arti sama dengan buah jeruk, yakni bentuknya yang satu ternyata memiliki banyak cabang, seperti isi buah jeruk yang terpisah satu sama lain, sama seperti satu pisang yang terdiri dari beberapa buah pisang.

"Pisang dibagi dua, pisang emas dipersembahkan untuk para dewa, sedangkan pisang raja dipersembahkan untuk orang tua. Ini melambangkan keluarga besar yang terdiri dari beberapa anggota keluarga," kata Pratana.

Buah delima, kata dia, dimaksudkan sebagai perlambang mendatangkan banyak rejeki dan anak, sebab buah tersebut seperti diketahui memiliki biji dengan jumlah yang sangat banyak.

Sesaji dari jenis sayuran juga tidak boleh terlupakan, terutama golongan sawi-sawian yang harus ada dalam setiap sesaji yang dipersembahkan kepada para dewa.

"Sawi itu harus masih utuh dengan akarnya, sehingga tidak boleh langsung dipotong, melainkan dicabut dengan perlahan dan hati-hati. Setelah itu, akar sawi harus dimasukkan dalam air hangat," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya ada sejarahnya kenapa sawi lengkap dengan akarnya itu menjadi menu wajib dari sesaji yang akan dipersembahkan kepada para dewa, bermula dari kisah Bing Tjoe dari Hokian.

Bing Tjoe merupakan penerus ajaran Konfusian, dia memiliki ibu seorang janda yang sangat sabar dalam mendidiknya menjadi orang yang berguna kelak di masa tuanya.

"Berkali-kali ibunya Bing Tjoe berpindah rumah untuk mendapatkan lingkungan terbaik bagi masa depan anaknya, pertama di pasar, namun kehidupan di pasar yang keras membuatnya khawatir terhadap kepribadian anaknya," katanya.

Kemudian, kata dia, ibunya pindah ke dekat kuburan dengan harapan anaknya dapat menjadi lebih baik di lingkungan barunya dan tidak terpengaruh kehidupan kota yang keras, namun ibunya kemudian memindahkannya lagi.

Ia mengatakan, terakhir kali ibunya memutuskan untuk tinggal di sekitar lingkungan sekolah dengan harapan anaknya dapat belajar, dan berkat jerih-payah ibunya akhirnya Bing Tjoe dapat bersekolah di sekolah itu.

"Suatu ketika, ibunya meninggal dunia saat Bing Tjoe dewasa. Ia ingin mempersembahkan jamuan terbaiknya untuk sesaji dan menunjukkan tanda bakti kepada ibunya, mulailah Bing Tjoe berbelanja segala jenis makanan lengkap," katanya.

Akan tetapi, segala jenis sayuran dan daging yang telah dibeli Bing Tjoe dengan seluruh harta kekayaan hasil keringatnya itu lenyap dicuri, kecuali satu jenis sayuran, yakni sawi.

"Akhirnya, Bing Tjoe memutuskan tetap mempersembahkan satu-satunya sawi yang tersisa itu sebagai sesaji untuk ibunya, sebagai tanda bakti yang sangat tulus dari seorang anak, meskipun sedang mengalami kesulitan," katanya.

Sepeninggal ibunya, Bing Tjoe akhirnya menjadi orang yang semakin sukses dan ia tak lupa selalu mempersembahkan sawi dalam setiap sesaji untuk arwah ibunya. Hal itu kemudian banyak diikuti orang untuk keberhasilan dan menjadi tradisi.

Menurut dia, kisah tersebut sebenarnya mengandung suatu pesan moral yang teramat bijak, yakni selalu memberikan yang terbaik kepada orang tua, walaupun sedikit namun sebenarnya sangat membahagiakan mereka.

Sekretaris Yayasan Khong Kauw Hwee, Eko Wardojo mengatakan, tradisi Tionghoa banyak menganut perlambang-perlambang, termasuk dalam ajaran-ajaran yang dibawa oleh Konfusian.

"Seperti doa yang dibahasakan secara diam dalam perlambang-perlambang, dan perlambang itu biasanya ditujukan kepada benda disesuaikan dengan kebutuhan," kata Eko. m
  • Facebook
  • Digg
  • Technorati
  • del.icio.us
  • Slashdot
  • DZone
  • StumbleUpon