ANTARA - Berawal dari kepedulian terhadap keberadaan budaya leluhur berupa batik khas Maos, Kabupaten Cilacap, Jateng, yang terancam punah, Euis Rohaini (30) keinginan untuk membentuk kelompok usaha "Rajasamas Batik".

Kelompok usaha yang dibentuk tahun 2007 di Desa Maos Kidul RT 09 RW 01, Kecamatan Maos itu, selain sebagai upaya menyelamatkan keberadaan batik tulis, juga ditujukan untuk membangkitkan perkembangan ekonomi rakyat, khususnya para pembatik di wilayah ini.

"Kami juga ingin memberdayakan masyarakat, termasuk regenerasi pembatik yang kebanyakan telah berusia lanjut sehingga diharapkan kelestarian batik dapat tetap terjaga," kata Euis di Maos, Jumat.

Keinginan Euis itu pun menjadi kenyataan karena jumlah perajin batik yang tergabung pada awal berdirinya kelompok usaha ini hanya lima orang, kini telah mencapai 80 orang.

Bahkan sering kali dalam pengerjaan batiknya, Euis melibatkan sejumlah pembatik di luar Kabupaten Cilacap, antara lain Banyumas dan Purbalingga.

"Hitung-hitung sebagai pemberdayaan masyarakat. Daripada mereka bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga, lebih baik bekerja sebagai pembatik di negeri sendiri, sekaligus untuk menyelamatkan budaya bangsa," katanya.

Menurut dia, masyarakat yang tergabung dalam kelompok usaha "Rajasamas Batik" ada yang dibayar bulanan sebesar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu/oramg, yang disesuaikan dengan tingkat keahlian masing-masing.

Selain itu, kata dia, ada juga yang dibayar dengan sistem borongan, yakni sebesar Rp25 ribu per lembar untuk batikan pertama dan Rp20 ribu untuk batikan kedua. Batikan pertama adalah proses pembuatan pola dasar, sedangkan batikan kedua berupa proses pengisian pola.

Bahkan, kata Euis, untuk pengerjaan batik pada kain sutra mendapat bayaran hingga Rp100 ribu per lembar.

"Untuk sutra tergantung tingkat kesulitannya, ada yang dibayar Rp50 ribu dan ada juga yang Rp100 ribu. Ini sebabnya mengapa batik sutra kami harganya mahal, karena memiliki tingkat kesulitan tinggi," katanya.

Keberhasilan Euis dalam upaya memberdayakan masyarakat ini telah mengantarkannya untuk memperoleh penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2009 bidang kewirausahaan.

Selain itu, keberhasilan pengembangan batik ini juga berkat dukungan suaminya, Tonik Sudarmaji (36) yang juga Ketua Forum Pengrajin Batik Warna Alam Jawa Tengah, serta adanya bantuan dana bergulir dari Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap maupun Pemerintah Kabupaten Cilacap.

Lebih lanjut mengenai dana bergulir ini, Tonik Sudarmaji mengatakan, "Rajasamas Batik" pernah mendapat dana bergulir dari Pertamina RU IV Cilacap sebesar Rp3 juta pada tahun 2008, dengan masa pinjaman selama tiga tahun dan bunga enam persen per tahun.

Sementara dari Pemkab Cilacap, kata dia, dana tersebut diperoleh melalui Bagian Perekonomian sebesar Rp15 juta selama 18 bulan dengan bunga sekitar delapan persen, serta bantuan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat sebesar Rp15 juta selama satu tahun tanpa bunga.

"Seperti halnya perajin lainnya, kami sebenarnya berharap adanya hibah. Walau demikian, dana bergulir ibaratnya sebuah pinjaman sehingga kami tetap berkomitmen untuk mengembalikan," katanya.

Ia mengatakan, pinjaman berupa dana bergulir ini tidak terlalu memberatkan karena bunganya dihitung per tahun.

Menurut dia, hal ini berbeda dengan pinjaman dari perbankan karena bunganya bisa mencapai dua persen per bulan.

"Kami berharap perbankan bisa memberi pinjaman atau dana bergulir seperti BUMN yang rata-rata enam persen per tahun," katanya.

Dia mengakui manfaat memperoleh kucuran dana bergulir dari Pertamina, yakni sering diajak mengikuti pameran sehingga hal itu dapat dijadikan sebagai ajang promosi.

"Saya sudah tujuh kali ikut pameran selama dua tahun ini dan rencananya akan ikut pameran lagi di Jakarta," katanya.

Dia mengakui pernah ditawari untuk mengambil kredit usaha rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia, tetapi ditolaknya karena plafon kredit yang ditawarkan hanya sebesar Rp5 juta, sedangkan jika mengambil lebih dari jumlah tersebut harus menyertakan agunan.

Menurut dia, adanya agunan tersebut sangat memberatkan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.

Selain itu, kata dia, fasilitas pameran dari bank penyalur KUR sangat jarang sehingga pelaku UKM kurang berminat.

"Saya lebih baik mengambil dana bergulir dari Pertamina meskipun hanya Rp3 juta, itu tak menjadi masalah karena BUMN ini sering memfasilitasi pameran, sedangkan BRI jarang ada pameran. Padahal pameran sangat penting dalam upaya promosi," katanya.

Berkat sering mengikuti pameran terutama yang digelar di Jakarta, berdampak positif terhadap perkembangan "Rajasamas Batik" sehingga konsumen datang sendiri untuk membeli atau memesan batik khas Maos ini.

Dalam hal pengembangan UKM di Kabupaten Cilacap, Tonik merasa iri terhadap kebijakan pemerintah kabupaten lain yang peduli terhadap UKM di wilayahnya.

Menurut dia, kepedulian Pemkab Cilacap terhadap UKM dirasakan sangat kurang.

"Pemkab Banyumas sangat proaktif terhadap UKM dengan mengoordinasi mereka untuk mengikuti pameran. Akan tetapi kalau di Cilacap UKM-nya yang bergerak sendiri untuk ikut pameran," katanya.

Selain itu, dia berharap adanya subsidi dari Pemkab Cilacap dalam hal pengembangan sumber daya manusia termasuk subsidi bagi pemasaran produk UKM.

Dia mencontohkan Pemkab Sidoarjo yang memberikan subsidi bagi perajin batik di daerahnya.

"Di Korea, saya kalah bersaing dari batik Sidoarjo karena pemerintahnya memberikan subsidi bagi perajin sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih murah," katanya.

Menurut dia, pemberian subsidi juga diberikan Pemerintah China kepada UKM-UKM yang ada di negeri tirai bambu tersebut.

"Mengapa harga produk China dapat lebih murah. Hal ini disebabkan pemerintahnya memberi subsidi hingga 80 persen," katanya.

Kendati demikian, dia bersama istrinya (Euis, red.) bertekad untuk tetap mengembangkan batik tulis khas Maos agar tidak tersisihkan atau dilupakan oleh masyarakat. s
  • Facebook
  • Digg
  • Technorati
  • del.icio.us
  • Slashdot
  • DZone
  • StumbleUpon