ANTARA - Pameran seni rupa bertajuk "Ecce Homo" yang berlangsung di Semarang Contemporary Art Gallery pada 1-10 Maret 2010, menjadi media perupa dalam pencarian "aku" atau jati diri manusia sesungguhnya.

"'Ecce Homo' yang berarti 'Lihatlah Manusia' merupakan pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche dan menjadi hal yang sangat mendasar dalam pemahaman dan teori filsafat," kata kurator pameran, Heru Hikayat di Semarang, Sabtu.

Pameran itu diikuti oleh banyak perupa yang berasal dari berbagai daerah, seperti Aminuddin TH Siregar dari Jakarta, Amrizal Salayan, Diyanto, Gusbarlian, Nurdian Ichsan, Roumy Handayani Pesona dari Bandung.

Kemudian, Abdi Setiawan, Agus Suwage, Galam Zulkifli, Laksmi Sitharesmi, Sigit Santosa, Sugiyo Dwiarso dari Yogyakarta, dan Atie Krisna Semarang yang menyuguhkan berbagai karya lukisan dan instalasi seni rupa.

Nietzsche, kata Heru, sangat menekankan keyakinan manusia yang tidak dapat berpaling dari dirinya dan dunia, sehingga menganggap kepercayaan pada dogma agama dan negara akan membuat manusia lupa menjalani hidup.

"Bagi Nietzsche, prinsipnya bukan akan ada kehidupan yang lebih baik di alam nanti setelah mati, namun kehidupan saat ini di mana kita menjalani kehidupan kita sendiri secara bertanggung jawab," katanya.

Pemikiran Nietzsche tersebut nampaknya menjadi inspirasi para seniman yang menampilkan karya dalam pameran itu, seperti terlihat dalam karya Aminuddin TH Siregar dengan lukisan "Mengapa Aku adalah Takdir".

Dalam lukisan itu, Nietzsche digambarkan memegang pedang dan dikelilingi hiu di tengah samudera, namun dalam lukisan yang lain berjudul "Mengapa Aku Demikian Cerdas", Nietzche digambarkan mengayuh perahu dikelilingi hiu.

"Hiu seperti monster yang menjadi mimpi buruk manusia, sedangkan samudera melambangkan masa depan yang tak tahu akan menuju kemana, itu merupakan gambaran hidup manusia," kata Heru.

Aminuddin juga menampilkan instalasi perahu kayu bertajuk "EH. Boat" yang semakin memperjelas simbolisasi makna samudera dan hiu dalam kehidupan manusia menuju masa depan yang penuh bahaya.

Berbeda dengan Aminuddin, Diyanto justru menampilkan lukisan bertajuk "Bukan Ikan Bukan Daging" yang menggambarkan manusia saling menggigit dan berebut dengan manusia lainnya.

"Lukisan itu sepertinya ingin membenarkan ungkapan 'Homo Homini Lupus', bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, ada kesewenang-wenangan terhadap pihak yang lemah," katanya.

Beberapa perupa lain, seperti Atie Krisna memilih menampilkan lukisan berjudul "In Between" yang menggambarkan bumi ibarat alas tungku yang sudah hitam, kotor, dan penuh jelaga. z

  • Facebook
  • Digg
  • Technorati
  • del.icio.us
  • Slashdot
  • DZone
  • StumbleUpon