ANTARA - Banjir yang merendam persawahan seluas 488 hektare di Desa Pahonjean, Mulyasari, Padangsari, dan Mulyadi, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, diperkirakan mengakibatkan kerugian hingga Rp250 juta.

"Jumlah tersebut merupakan taksiran kerugian sementara," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Hari Winarno di Cilacap, Kamis.

Menurut dia, jumlah kerugian tersebut diperkirakan akan membengkak jika dihitung secara teknis dengan memperhitungkan lama rendaman air terhadap tanaman padi yang berusia 40-50 hari tersebut.

Ia mengatakan, jika rendaman tersebut berlangsung selama tiga hari dapat menyebabkan kerusakan tanaman padi sekitar 50 persen.

Akan tetapi jika lebih dari tiga hari, kata dia, dapat menyebabkan seluruh tanaman padi rusak atau mengalami puso.

"Jika dari satu hektare menghasilkan 5,8 ton gabah dengan harga gabah saat ini berkisar Rp2.700-Rp2.800 per kilogram, dapat dibayangkan berapa besar kerugian yang diderita meskipun kerusakannya hanya 50 persen," katanya.

Disinggung mengenai kondisi genangan air, dia mengatakan, banjir yang merendam 488 hektare persawahan di empat desa tersebut mulai surut.

"Kami baru saja terima laporan dari rekan di Unit Pelaksana Teknis BPBD Wilayah Majenang jika genangan air mulai surut," jelasnya.

Kendati demikian, dia mengatakan, BPBD Cilacap tetap mengantisipasi kemungkinan banjir tersebut terjadi dan semakin meluas dengan menyiapkan dua rumah panggung sebagai tempat pengungsian warga.

Selain itu, kata dia, dua buah perahu karet dari BPBD Cilacap dan Balai Besar Sungai Citanduy Kota Banjar (Jawa Barat) juga telah disiagakan untuk evakuasi warga jika banjir tersebut meluas.

"Kami juga telah berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Purwokerto dan Balai Besar Sungai Citanduy Kota Banjar dalam hal penanganan banjir yang disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Cikawung dan Sungai Solokan I (anak Sungai Cikawung, red.)," kata Hari.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, banjir yang terjadi di Kecamatan Majenang sejak Rabu pagi (10/3), semula hanya merendam persawahan seluas 488 hektare di empat desa, yakni Padangsari, Mulyasari, Mulyadadi, dan Pahonjean.

Akan tetapi pada Rabu siang, sekitar pukul 15.00 WIB, genangan air semakin meluas dan mulai memasuki perkampungan dengan menggenangi 10 rumah warga di Dusun Bojongmeros, Desa Pahonjean.

Selain merendam persawahan, banjir tersebut juga memutus sejumlah jalan tembus penghubung desa-desa tersebut dengan sejumlah desa lainnya di luar wilayah Kecamatan Majenang.

Banjir yang terjadi di wilayah tersebut disebabkan adanya tiga titik tanggul yang jebol, masing-masing berada di Sungai Cikawung sebanyak dua titik dan satu titik di Sungai Solokan I (anak Sungai Cikawung, red.).

Lokasi tanggul jebol tersebut berada di sekitar PT Perkebunan Nusantara IX yang masuk wilayah Desa Karangreja, Kecamatan Cimanggu, Cilacap.

Banjir di empat desa tersebut juga pernah terjadi pada awal Februari 2009 akibat hujan lebat dan luapan Sungai Cikawung, sehingga ratusan kepala keluarga harus mengungsi karena ketinggian air berkisar 150-200 centimeter. z
  • Facebook
  • Digg
  • Technorati
  • del.icio.us
  • Slashdot
  • DZone
  • StumbleUpon