ANTARA - Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Anung Sugihantono menyatakan angka kematian ibu melahirkan di provinsi ini masih tinggi, yakni 668 kasus kematian, selama tahun 2011.

"Kasus kematian ibu saat persalinan itu mencapai sekitar 16,01 persen dari total proses kelahiran hidup," katanya saat rapat kerja bidang kesehatan se-Jateng di Semarang, Kamis.

Dari jumlah tersebut, lanjut dia, 81 persen di antaranya meninggal dunia saat ditangani di rumah sakit.

Melihat tingginya angka tersebut, menurut dia, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem layanan rujukan di rumah sakit.

Ia menuturkan, mekanisme layanan rujukan di rumah sakit untuk ibu bersalin harus terus dievaluasi dan diperbaiki.

Jawa Tengah, kata dia, menjadi satu dari enam provinsi yang mencanangkan program "Expanding Maternal and Newborn Survival" untuk menekan angkan kematian ibu saat persalinan.

"Program ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau USAID selama lima tahun ke depan untuk menekan angka kematian ibu," katanya.

Untuk Jawa Tengah, lanjut dia, terdapat tujuh daerah yang ditarget untuk melaksanakan program tersebut.

"Pada tahun ini, masih sebatas di Kabupaten Tegal dan Banyumas yang angka kejadiannya cukup tinggi," katanya.

Sementara itu, Gubernur Bibit Waluyo meminta program kesehatan tersebut harus selalu diawasi dan dievaluasi.

Berbagai indikator pada sektor kesehatan, kata dia, mengalami kecenderungan membaik, kecuali kematian ibu saat melahirkan.

Program tersebut, lanjut dia, diharapkan mampu menekan angka kematian ibu saat melahirkan hingga mencapai target 90 orang per 100 ribu kelahiran hidup pada 2015.

Editor : Achmad Zaenal M


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar