ANTARA - Mahalnya biaya tes DNA atau eoxyribonucleic acid bakal menjadi kendala putusan Mahkamah Konstitusi atas Undang-Undang Nomor 1/1974 tentang Perkawinan, kata androlog Universitas Diponegoro Semarang dr Achmad Zulfa Juniarto.

"Memang biaya tes DNA mahal, sekali tes sekitar Rp8-12 juta. Masih terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat," katanya saat dihubungi dari Semarang, Selasa, menanggapi putusan MK yang berimplikasi anak yang lahir di luar perkawinan resmi memiliki hubungan perdata dengan sang ayah.

Sebelumnya, MK mengabulkan uji materi yang diajukan Aisyah Mochtar (Machica Mochtar), istri siri mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono (almarhum) terkait status anak yang lahir di luar perkawinan resmi yang hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu.

Hal itu termuat dalam Pasal 43 ayat 1 UU Perkawinan yang kemudian dibatalkan MK karena dinilai melanggar konstitusi sehingga anak-anak yang lahir di luar perkawinan memiliki hubungan perdata dengan sang ayah sepanjang dapat dibuktikan memiliki hubungan darah.

Zulfa menjelaskan, pembuktian hubungan darah memang bisa dilakukan melalui tes DNA, seperti di Division of Human Genetics Center for Biomedical Research Fakultas Kedokteran Undip Semarang, namun biaya yang dibutuhkan memang besar.

Untuk melakukan pemeriksaan DNA itu, kata dia, pihaknya bekerja sama salah satu lembaga di Australia.

"Pemeriksaan DNA ini harus dilakukan terhadap anak, ibu, dan ayah. Penghadiran 'sang ayah' ini juga mendatangkan kesulitan tersendiri," kata Kepala Bagian Biologi Medik Fakultas Kedokteran Undip tersebut.

Belum lagi, kata dia, pusat pelayanan yang menangani pemeriksaan DNA selama ini terbatas dan biasanya hanya ada di kota-kota besar sehingga masyarakat yang ada di daerah-daerah tentunya akan kesulitan.

Selain itu, Zulfa mengatakan bahwa waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil tes DNA cukup lama sekitar satu sampai tiga bulan, bergantung pada pusat layanan pemeriksaan DNA yang bersangkutan.

Berkaitan dengan mahalnya biaya tes DNA, ia mengatakan hasil tes yang dilakukan untuk membuktikan hubungan darah, misalnya antara anak dan ayah juga belum tentu positif padahal biaya yang dikeluarkan besar.

Sebagai contoh kasus, misal ada perempuan yang memiliki anak ingin mengetes kecocokan DNA anaknya dengan laki-laki A yang diduga ayahnya, namun hasil tes menyatakan negatif, kemudian ingin melakukan tes lagi pada laki-laki B.

"Ya memang hasil tes DNA belum tentu positif. Jika mau melakukan tes lagi, tentunya harus menambah biaya lagi," katanya.

Ditanya kemungkinan akan semakin meningkatnya permintaan tes DNA seiring putusan MK itu, Zulfa yang juga menjadi peneliti di Bagian Biologi Medik Fakultas Kedokteran Undip itu enggan memprediksinya.

Editor : Achmad Zaenal M


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar