Magelang, ANTARA Jateng - Keluarga salah seorang penumpang pesawat Sukhoi Superjet100 yang mengalami kecelakan, Didik Nur Yusuf (44) di Kota Magelang, pasrah dengan kecelakaan yang terjadi.

"Kami berharap Tuhan masih memberikan kehidupan. Namun seandainya meninggal kami pasrah, kami bangga karena adik saya meninggal saat bekerja menjalan tugas," kata Nur Zamroni (54), kakak kandung korban Didik Nur Yusuf di Magelang, Jawa Tengah, Kamis.

Didik Nur Yusuf merupakan wartawan Majalah Angkasa yang turut serta dalam penerbangan promosi pesawat Sukhoi Superjet100.

Pesawat tersebut mengalami kecelakaan di Gunung Salak, perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat.

Belum bisa dipastikan kondisi para penumpangnya termasuk Didik.

Didik tinggal di kompleks Perumahan Puri Kartika Baru Blok H 3 No 6 Jalan Jambu, Ciledug, Jakarta Barat.

Ia tinggal bersama istrinya Nurlaela (35) dan seorang anaknya Abdul Haris Dirgantara (15).

Sebagian saudara kandung Didik ada di Kampung Kauman, Gang Krisnayi No 38, RT 2 RW 1, Kelurahan Cacaban, Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Nur Zamroni menuturkan, setelah lulus SMA Didik berangkat ke Jakarta menjadi wartawan di majalah Hei kemudian di majalah Angkasa selama 14 tahun terakhir.

Anak ke-12 dari 13 bersaudara ini sejak kecil memang bercita-cita bekerja di bidang kedirgantaraan karena menyukai pesawat. Selama bekerja di majalah Angkasa sudah sering naik pesawat untuk tugas peliputan termasuk pesawat F16.

"Kami terakhir bertemu saat dia bersama istri dan anaknya pulang ke Magelang pada Ramadhan lalu. Kami tidak heran mendengar dia berkali-kali naik pesawat karena menjadi bagian dari tugasnya. Namun begitu mendengar pesawat yang dinaikinya kecelakaan, kami sangat terkejut," katanya.

Ia menuturkan, keluarga korban di Magelang pertama kali mendengar pesawat yang ditumpangi Didik kecelakaan ketika dikirimi pesan singkat oleh keponakannya yang bekerja di Kompas dan Tempo, Satriyo Nusantara.

"Saat saya melihat tayangan televisi, ternyata di daftar korban ada nama Yusuf dari majalah Angkasa, tidak salah lagi itu pasti Yusuf adik saya. Saya melihat istrinya dan anaknya juga muncul ditelevisi sambil menangis. Kami sekeluarga pun kaget dan pasrah," katanya.

Menurut dia, kontak terakhir dengan korban pada Minggu (6/5) sore. Saat itu Didik menelepon Zamroni ingin pulang ke Magelang karena ingin memperbaiki makam kedua orang tuanya, Ahmad Husain dan Mutiana.

Meskipun pasrah, keluarga di Magelang, yakni kakak kandung Didik yang lain, Nur Huda berangkat ke Jakarta. Selain untuk menghibur istri dan anak Didik, juga berharap dapat segera memperoleh kejelasan tentang nasib para penumpang pesawat Sukhoi Superjet100.

Editor : Achmad Zaenal M


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar