BANJARNEGARA, 11/3 - SENDRATARI TITISAN KOLODETE. Sejumlah penari menampilkan salah satu adegan pada pentas sendratari Titisan Kolodete di pelataran komplek candi Arjuna dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (11/3). Sendratari Titisan Kolodete berkisah tentang Kyai Kolodete yang merupakan salah satu tokoh pendiri Wonosobo yang mendiami Daerah Dataran Tinggi Dieng yang mengilhami tradisi memelihara rambut Gembel bagi anak-anak di kawasan tersebut hingga saat ini. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/ed/ama/12.

Berita Terkait
Jika membicarakan Dieng, hampir setiap orang khususnya wisatawan maupun biro perjalanan wisata menyebut dataran tinggi ini berada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.



Padahal secara geografis, dataran tinggi yang dikenal sebagai "negeri kayangan" atau tempat para dewa ini masuk wilayah Banjarnegara karena sebagian besar objek wisata maupun lahan pertanian dan permukimannya berada di kabupaten itu.

Dalam hal ini, sebagian besar wilayah Dataran Tinggi Dieng khususnya kawasan objek wisata dan pertanian masuk Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Kurang dikenalnya Dieng sebagai wilayah Banjarnegara kemungkinan besar disebabkan kemudahan akses jalan dari Wonosobo menuju dataran tinggi ini.

Secara kasat mata, kondisi jalan dari Wonosobo menuju Dieng lebih bagus dan pendek dibanding melalui Banjarnegara yang kondisi jalannya masih banyak kerusakan dan cukup panjang sehingga terasa melelahkan.

Kenyataan inilah yang mengakibatkan wisatawan cenderung memilih lewat Wonosobo terutama wisatawan yang datang dari arah Yogyakarta atau timur.

Bahkan, wisatawan yang datang dari arah Purwokerto atau barat pun lebih memilih lewat Wonosobo meskipun tetap melewati pusat kota Banjarnegara karena kondisi jalan dari Banjarnegara menuju Dieng cukup jauh dan masih banyak kerusakan.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo mengakui kondisi jalan dari Banjarnegara menuju Dieng melalui Karangkobar dan Batur banyak mengalami kerusakan dan jaraknya cukup jauh.

"Saya saja ke sini (Dieng, red.) lewat Wonosobo," kata dia saat "media gathering" bersama insan pers di Pendopo Soeharto Withlam, Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Sabtu (5/5) malam.

Kendati demikian, dia mengaku terpukul karena banyaknya opini yang menyatakan bahwa Dieng berada di Wonosobo.

Oleh karena itu, Bupati bertekad berperang melawan opini tentang keberadaan Dieng yang selama ini dikenal sebagai wilayah Wonosobo.

"Dieng itu milik Banjarnegara, bukan Wonosobo," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno. Mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini mengakui, aksesibilitas dari Banjarnegara menuju Dieng menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan sektor pariwisata di Dataran Tinggi Dieng.

Menurut dia, kondisi jalan yang banyak mengalami kerusakan dan minimnya angkutan dari Banjarnegara menuju Dieng melalui Karangkobar dan Batur mengakibatkan wisatawan lebih memilih lewat Wonosobo yang jalannya relatif lebih bagus dan banyak angkutan umum.

Selain itu, dia juga menyoroti dua hotel di Wonosobo yang memasang peta wisata tanpa mencantumkan rute perjalanan ke Dieng dari arah Banjarnegara.

"Peta itu hanya menunjukkan rute dari arah Wonosobo, tidak ada yang dari arah Banjarnegara. Ini yang menjadi salah satu penyebab munculnya opini jika Dieng merupakan wilayah Wonosobo. Padahal sebagian besar objek wisata di Dieng milik Banjarnegara, sedangkan Wonosobo hanya punya beberapa objek wisata," kata dia yang juga mantan wartawan sebuah harian terbitan Semarang.

Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo sebenarnya pernah menjalin kerja sama pengelolaan objek wisata di Dataran Tinggi Dieng.

Sekretariat bersama ini, kata dia, dipimpin oleh wakil bupati dari dua kabupaten ini secara bergantian setiap tahun.

Akan tetapi, lanjutnya, sekretariat bersama ini mengalami kevakuman sehingga Pemkab Banjarnegara akan mengajak Wonosobo untuk menghidupkannya kembali.

Dia mengakui, usulan mengganti nama Kecamatan Batur menjadi Dieng sudah banyak bermunculan sebagai upaya menciptakan opini bahwa Dieng berada di Kabupaten Banjarnegara, namun hal itu masih perlu dipertimbangkan lagi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Banjarnegara, Suyatno mengatakan, upaya menciptakan opini bahwa Dieng ada di Kabupaten Banjarnegara terus digalakkan, salah satunya dengan menjaring wisatawan agar menuju Dieng melalui Banjarnegara.

Oleh karena itu, kata dia, Dinbudpar Banjarnegara bersama Banyuwoong Adventure kembali menawarkan paket wisata ekstrem baru berupa "Dieng Jeep Tour".

"Sebelumnya, kami bersama Banyuwoong telah bekerja sama mengembangkan paket wisata ekstrem di Sungai Serayu berupa arung jeram yang dinilai banyak menarik wisatawan yang gemar berpetualang," katanya.

Menurut dia, ide paket wisata "Dieng Jeep Tour" ini berawal dari keinginan Dinbudpar bersama Banyuwoong untuk mempromosikan wisata alam dan purbakala di Dataran Tinggi Dieng yang sebenarnya sebagian besar berada di Kabupaten Banjarnegara.

Akan tetapi selama ini, kata dia, Dieng sering kali disebut sebagai objek wisata milik Kabupaten Wonosobo karena akses jalan lebih mudah dan lebih dekat jika dibanding melalui Banjarnegara.

Dia mengakui, akses jalan provinsi dari Banjarnegara menuju Dieng cukup jauh dan terdapat beberapa kerusakan sehingga sering kali membosankan wisatawan.

"Oleh karena itu, kami membicarakan promo wisata Dieng tersebut bersama Banyuwoong sehingga muncul ide 'Dieng Jeep Tour' ini. Apalagi sekarang banyak wisatawan yang mencari paket-paket wisata petualangan," katanya.

Ia mengatakan, paket "Dieng Jeep Tour" ini berupa perjalanan wisata dari "Base Camp The Pikas" (Pikas: Pinggir Kali Serayu) di Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, menuju Dataran Tinggi Dieng dengan menggunakan kendaraan Jeep "Offroad".

Menurut dia, jalur yang dilalui paket wisata bukan jalan yang biasa dilalui wisatawan yang masuk melalui Banjarnegara, melainkan jalur-jalur "offroad" yang penuh tantangan namun tetap memiliki keindahan alam.

Dalam paket wisata ini, kata dia, sebanyak empat objek wisata yang dikunjungi, yakni Candi Dieng, Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Museum Purbakala Dieng dengan didampingi seorang pemandu wisata.

"Kami harapkan paket wisata ini dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Dieng melalui Banjarnegara. Kami pun siap menyongsong Tahun Kunjungan Wisata Jateng Tahun 2013," katanya.

Upaya menjaring wisatawan untuk bisa masuk Dieng melalui Banjarnegara pun dilakukan seorang pengusaha perbankan, Satrio Yudiarto, yang merupakan putra asli kabupaten ini.

Pemilik Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Surya Yudha ini membuka wahana wisata air berupa "Surya Yudha Water Park" yang dilengkapi dengan hotel berbintang tiga di tepi jalan utama Banjarnegara-Dieng.

Menurut dia, selama ini Banjarnegara hanya dilewati wisatawan yang lebih memilih menginap di Wonosobo.

"Banjarnegara memiliki potensi luar biasa, namun selama ini namanya kurang dikenal. Bahkan sering kali ada yang keliru dengan Banjar Patroman di Jawa Barat," katanya.

Terkait hal itu, dia bertekad memromosikan Banjarnegara melalui jaringan perbankan maupun hotel miliknya.

Bahkan, dia mengaku siap membantu upaya Bupati Purbalingga dan Bupati Banyumas untuk mewujudkan Landasan Udara (Lanud) Wirasaba di Purbalingga menjadi bandara komersial sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk berwisata di Banjarnegara.

Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca
nia
DIENG MILIK SIAPA ??????? TOLONG SIMAK DI http://www.diengplateau.com/2011/06/dieng-milik-siapa-wonosobo-atau.html

Jumat, 11 Mei 2012 19:48:31 WIB

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar