Semarang, 17/7 (ANTARA) - Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah Prof Eko Budihardjo berpendapat sejumlah produk tanah liat dari pada pedagang yang dijual di "Dugderan" perlu sentuhan seniman untuk memberikan nilai jual lebih tinggi.



"Perlu ada inovasi atau pembaharuan. Tidak itu-itu saja modelnya, tetapi perlu ada karya seni yang baru," kata Prof Eko Budihardjo di Semarang, Selasa.

Sentuhan seniman tersebut diharapkan bisa memberikan nilai tambah dari sejumlah barang dagangan yang terbuat dari tanah liat seperti bentuk celengan sapi, harimau, gajah, ayam, dan bentuk lainnya yang dari tahun ke tahun modelnya selalu sama.

Model dan bentuk yang sama tersebut menjadikan magnet untuk menarik pembeli pun tidak terlalu kuat dan nilai jualnya pun tidak tinggi.

Untuk dapat menciptakan karya yang baru, lanjut Prof Eko bisa dengan melibatkan seniman. Semangat untuk menjual produk khas yang dijual setiap menyambut Bulan Ramadan tetap, tetapi karya yang disajikan berbeda.

"Gaya dan model bisa berubah. Dulu barang-barang kasongan nilainya berubah karena ada seniman Sapto Hudoyo yang membantu memberikan gagasan agar produk ada yang baru," katanya.

Karya baru tersebut perlu sesuatu yang berbeda, unik, dan tanpa meninggalkan kearifan lokal yang menjadi ciri khas dari Kota Semarang.

Terkait dengan adanya perbedaan asal usul Warak Ngendok, Prof Eko Budihardjo menilai hal tersebut merupakan sebuah rahmat adanya percampuran budaya.

"Perbedaan adalah rahmat. Akan tetapi jika ingin melihat dari sisi keilmuan, maka bisa saja dilakukan penelitian," katanya.

Peneliti bisa saja melakukan penelusuran secara keilmuan bagaimana sejarah Warak Ngendok sampai sekarang.

Editor : Mahmudah


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar