Seorang petani mencabut tanaman pengganggu di sawahnya yang mulai mengering di Desa Dampyak, Kabupaten Tegal, Jumat (15/6). Awal musim kemarau sawah tadah hujan di daerah tersebut telah mengalami kekeringan dan petani mengaku khawatir tidak dapat panen dengan hasil yang maksimal. FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah/tom/12.

Berita Terkait
Banjarnegara, ANTARA Jateng - Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Dwi Atmadji menyebutkan sekitar 33 hektare tanaman padi di Desa Majatengah, Kecamatan Banjarmangu, terancam mati akibat kekeringan.

"Hingga minggu pertama Agustus, luas sawah yang terancam kekeringan mencapai 202 hektare, yang tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Susukan, Mandiraja, Banjarmangu, Punggelan, Pandanarum, dan Kalibening. Dari luasan tersebut, sekitar 33 hektare tanaman padi di Desa Majatengah, Kecamatan Banjarmangu, sulit diselamatkan," katanya di Banjarnegara, Selasa.

Menurut dia, hal itu disebabkan usia tanaman di Desa Majatengah masih di bawah 60 hari setelah tanam.

Selain itu, kata dia, di Desa Majatengah sudah tidak ada lagi yang dapat dimanfaatkan untuk pengairan.

"Di samping karena kurang patuhnya pada pola dan jadwal tanam, kondisi ini juga terjadi akibat terlalu cepat susutnya air irigasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau di lokasi lain masih bisa bisa diselamatkan dengan pompanisasi," kata dia menjelaskan.

Dia mengatakan, Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Dintankannak) sebenarnya sudah berulang kali mengimbau petani terutama di wilayah rawan kekeringan untuk memerhatikan pola tanam padi-padi-palawija.

Selain untuk memutus siklus hama padi dan menjaga kondisi tanah, kata dia, penanaman palawija khususnya kedelai juga dapat mendukung program swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah sehingga tidak lagi tergantung pada impor.

"Kita ingin Kecamatan Susukan bisa kembali menjadi sentra penghasil kedelai seperti dulu," katanya.

Menurut dia, petani di Susukan cenderung meninggalkan kedelai sejak wilayah itu terjangkau jaringan irigasi karena beranggapan jika komoditas lain lebih menguntungkan.

"Faktor iklim juga cukup berpengaruh karena Banjarnegara hanya memungkinkan satu kali bertanam kedelai. Selain itu, ketersediaan benih bermutu dan tepat waktu juga sangat sulit," katanya.



Editor : Mahmudah


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar