Purwokerto, ANTARA Jateng - Puluhan sopir bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP) menjalani tes urine yang digelar Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengan di Terminal Bus Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa.




"Target kami sebanyak 30 sopir, baik AKDP maupun AKAP. Jika ada sopir yang dicurigai menggunakan narkoba, kami langsung lakukan tes urine," kata Kepala Unit Pelayanan Perhubungan Wilayah Banyumas Dinhubkominfo Jateng, Dadang Tridjoko di Purwokerto.

Menurut dia, tes urine yang digelar bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Jateng ini ditujukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkoba di kalangan sopir, terutama pada masa angkutan Lebaran.

"Sopir harus bersih dari obat-obatan terlarang yang dapat membahayakan dalam perjalanan," ujar Dadang Tridjoko.

Ia mengatakan, sopir yang teridentifikasi menggunakan narkoba tidak diperbolehkan mengemudikan kendaraan dan posisinya akan digantikan sopir lain.

Selain itu tes urine, kata dia, pihaknya juga memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan.

Berdasarkan pemeriksaan tersebut, lanjutnya, sejumlah kendaraan terkena tindakan langsung (tilang) sebanyak delapan bus, karena masa berlaku trayek telah habis, surat tanda nomor kendaraan (STNK) telah habis, dan masa berlaku buku uji juga telah habis.

"Kemarin (Senin), Dinhubkominfo Banyumas juga menggelar uji kelayakan terhadap 14 bus dan diketahui sebanyak enam bus AKDP dan dua bus AKAP melakukan pelanggaran, karena menggunakan ban vulkanisasi terutama pada ban bagian depan," katanya.

Menurut dia, perusahaan otobus tersebut diberi surat peringatan agar segera mengganti ban vulkanisasi dengan ban orisinal.

Sementara itu, Koordinator Tim Pemeriksa BNN Jateng, Dawam Susanto mengatakan, hasil tes urine tersebut dapat diketahui dalam lima menit.

"Kalau ada sopir yang terindentifikasi menggunakan narkoba, akan kami arahkan untuk mengikuti rehabilitasi yang digelar BNN secara gratis," katanya.

Kendati demikian, dia menolak untuk menyebutkan hasil tes urine tersebut dengan alasan bukan untuk konsumsi umum.

"Hasilnya hanya untuk internal," katanya.

Editor : Mahmudah


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar