Jakarta, ANTARA Jateng - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti potensi konflik akibat sengketa perbatasan dan klaim wilayah di Asia Tenggara dan Asia Pasifik sebagai tantangan kawasan di masa mendatang.

"Kita menyadari, berbagai persoalan itu dapat memicu ketegangan baru, dan berdampak bagi upaya bersama untuk mewujudkan Komunitas ASEAN dan kerja sama di kawasan Asia Pasifik," kata Presiden di depan sidang bersama DPR dan DPD di Jakarta, Kamis.

Presiden mengatakan Indonesia memiliki komitmen yang kuat dan terus berkontribusi untuk memastikan diimplementasikannya berbagai kesepakatan yang dicapai ASEAN dan KTT Asia Timur guna mewujudkan kesejahteraan, perdamaian, dan keamanan di kawasan.

Menurut Presiden, terwujudnya Komunitas ASEAN pada tahun 2015, merupakan cita-cita penting yang menjadi prioritas kita di kawasan Asia Tenggara menuju satu visi, satu identitas, dan satu komunitas.

Selain tantangan tradisional, menurut Presiden, kawasan Asia Tenggara dan Pasifik juga masih menghadapi berbagai tantangan non tradisional yang membawa dampak langsung terhadap keamanan dan kesejahteraan rakyat di kawasan.

Laut China Selatan

Salah satu sengketa perbatasan yang disoroti oleh Presiden Yudhoyono adalah sengketa Laut China Selatan yang melibatkan separuh negara ASEAN dan China.

"Kita juga terus mendorong keterpaduan dan peran sentral ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan di sekitarnya, termasuk perkembangan terkait Laut Cina Selatan," katanya.

Indonesia, menurut Presiden, menyayangkan pertemuan ASEAN pada tingkat menteri tahun ini yang belum berhasil mengeluarkan joint communique.

Namun, kata Presiden, berkat langkah diplomasi Indonesia yang proaktif dan intensif, keterpaduan dan peran sentral ASEAN telah kembali terjaga dan terkonsolidasikan dengan disepakatinya prinsip enam poin terkait Laut China Selatan pada 20 Juli lalu.

Presiden kemudian menggunakan kesempatan itu untuk mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin ASEAN atas dukungan dan kesepakatannya untuk memberikan prioritas bagi penyelesaian code of conduct di Laut Cina Selatan.

"Dengan code of conduct yang kita bicarakan pada ASEAN dan East Asia Summit di Bali tahun 2011 yang lalu, kita akan bisa menjaga stabilitas, keamanan dan ketertiban di wilayah Laut Cina Selatan," katanya.

Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN telah lama diakui kawasan memiliki peran sentral bagi kelangsungan organisasi itu.


Editor : Totok Marwoto


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar