Sejumlah petani merontokkan padi varietas Sidenuk yang dipanen di areal sawah Desa Kedungweru, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Kamis (30/8). Kerja sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Kebumen membudidayakan padi Sidenuk hasil litbang nuklir Batan di areal seluas 60 hektare di tiga desa di Kebumen dengan produksi sekitar 9,6 ton GKG per hektare. (Hari Atmoko/dokumen).

Berita Terkait
Kebumen, ANTARA Jateng - Para petani di Desa Kedungweru, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, panen raya padi unggul varietas Inpari Sidenuk, hasil penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Panen perdana padi di areal sawah Desa Kedungweru, Kecamatan Karangsambung, di Kebumen, Kamis, secara simbolis antara lain oleh Bupati Kebumen Buyar Winarso, Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nukir Batan Ferhat Azis, Kepala Pusat Diseminasi Iptek Batan Ruslan, dan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Kebumen Puji Rahayu.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sidomakmur Desa Kedungweru Darmin mengatakan, selama ini petani setempat menanam padi beberapa varietas lain dengan hasil sekitar 7,6 ton per hektare gabah kering giling, sedangkan panen padi Sidenuk mencapai sekitar 9,6 ton dengan masa tanam 103 hari.

"Kami mendapat bantuan bibit dari Batan, sedangkan 'ubarampe' (berbagai keperluan) lainnya dari swadaya petani," katanya.

Ia menyatakan bersama anggota kelompok tani setempat lainnya akan melanjutkan budi daya padi Sidenuk pada masa mendatang karena hasilnya lebih bagus ketimbang varietas lain. Gapoktan itu terdiri atas tiga kelompok tani dengan total anggota sekitar 40 petani.

Ferhat mengatakan, budi daya Sidenuk oleh petani Kebumen hingga saat ini meliputi tiga desa yakni Kedungweru, Kecamatan Karangsambung, Kalibagor (Kebumen Kota), dan Wonosari (Sadang) dengan total areal seluas 60 hektare.

"Harapan kami masyarakat semakin banyak yang memanfaatkan hasil penelitian Batan untuk meningkatkan produksinya, termasuk hasil penelitian bidang pertanian yang menggunakan iptek nuklir," katanya.

Pada kesempatan itu ia menjelaskan bahwa hasil penelitian iptek nuklir termasuk dalam bidang pertanian termasuk ramah lingkungan. Penelitian tentang pemanfaatan iptek nuklir yang dilakukan Batan antara lain di bidang industri, energi, kesehatan, dan pertanian.

Hingga saat ini, Batan telah menghasilkan 20 varietas padi hasil litbang iptek nuklir melalui teknologi mutasi radiasi. Hasil itu telah dirilis melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian dengan penyebaran yang telah menjangkau 24 provinsi di Indonesia. Sidenuk yang singkatan dari Si Dedikasi Nuklir itu produk varietas padi ke-17 Batan yang dilepas Menteri Pertanian pada 2011.

"Produksi lebih baik, rasanya lebih enak, dan lebih pulen," katanya.

Buyar mengatakan, penyuluh pertanian berperan penting menyebarluaskan informasi tentang keunggulan varietas Sidenuk kepada petani setempat supaya mereka bisa mendapatkan hasil produksi padi secara maksimal. Pada 2011 Kebumen surplus sekitar 460.000 ton GKG.

"Beri pemahaman petani tentang Sidenuk ini lewat para penyuluh, supaya hasil kerja mereka bisa maksimal. Mereka harus menanam padi yang sesuai juga dengan kondisi lahannya," katanya.

Sejumlah lokasi di Kebumen juga dikembangkan sebagai tempat penangkaran varietas tersebut untuk mendukung percepatan penyebarluasan Sidenuk kepada petani setempat. Varietas itu juga memiliki toleransi yang baik terkait dengan ketersediaan air.

Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar