Rabu, 30 November 2016

Suu Kyi Yakinkan China Tentang Hubungan dengan AS

Rabu, 19 Sept 2012 08:44:53  WIB
Pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi menghadiri sebuah acara diskusi di London School of Economics di London, Inggris, Selasa (19/6). Aung San Suu Kyi kembali menginjakkan kaki di tanah Eropa untuk pertama kalinya sejak 1988, saat ia meninggalkan keluarganya di Inggris dan mendorongnya untuk berjuang melawan kediktatoran Myanmar, yang sebagian besar ia lakukan dari dalam rumahnya. (REUTERS/Suzanne Plunkett)
Washington, ANTARA Jateng - Tokoh oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi, Selasa, berupaya meyakinkan China bahwa hubungan yang menghangat antara Myanmar dan Amerika Serikat tidak akan merugikan China.



Suu Kyi juga mengisyaratkan bahwa ia terbuka bagi diakhirinya sanksi-sanksi AS terhadap negaranya, lapor AFP.

Dalam pernyataan penting pertama yang ia sampaikan dalam kunjungan bersejarahnya di Amerika Serikat, penerima penghargaan Nobel Perdamaian itu mengatakan ia tidak ingin hubungan AS dengan Myanmar terlihat "berbahaya" oleh China, yang selama ini menjadi sekutu utama bekas junta negaranya.

Suu Kyi, yang berbicara di Institute of Peace and Asia Society Amerika Serikat, mengatakan adalah pertanyaan yang alami apakah AS sedang memusatkan perhatian kepada Myanmar sebagai upaya untuk menahan pengaruh China.

Ia mengatakan, "Bukan berarti bahwa karena Amerika Serikat berhubungan dengan Burma (Myanmar, red) lalu ini dilihat sebagai langkah membahayakan bagi China."

"Kita dapat menggunakan keadaan baru kita ini untuk memperkuat hubungan di antara ketiga negara," kata Suu Kyi.

"Untuk mudahnya bagi kita, merupakan keuntungan bagi Amerika Serikat dan China untuk membentuk hubungan yang bersahabat. Ini akan sangat membantu kita," katanya.

Suu Kyi juga mengisyaratkan bahwa ia menginginkan AS mengakhiri sanksi terhadap Myanmar.

"Menurut saya, kita tidak perlu berpegang pada sanksi-sanksi yang tak perlu," katanya.

"Kami harus membangun sendiri demokrasi kami dan kami menginginkan hubungan AS-Burma didasarkan secara tegas atas kesadaran tentang perlunya rakyat kami bertanggung jawab terhadap nasib kami sendiri," ujarnya.

AS telah melonggarkan sanksi-sanksi yang dijatuhkannya kepada Myanmar dengan harapan hal itu dapat mendorong reformasi.

Pada bulan Juli, AS juga mencabut berbagai pembatasan di sebagian besar investasi AS kendati Suu Kyi sebelumnya memperingatkan tentang berbisnis dengan perusahaan migas milik negara, yang mendapat kritik luas karena catatan buruk menyangkut tenaga kerja.

Suu Kyi mengatakan bahwa Presiden Thein Sein, yang akan berkunjung ke AS pekan depan, bersikap tulus tentang perubahan.

Namun, ia memperingatkan bahwa lembaga peradilan merupakan "senjata paling lemah" dalam gerakan menuju reformasi di Myanmar. (T008/AK)

Editor: Mahmudah

COPYRIGHT © 2016


Berita Lainnya
Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama
Email
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar
   
Baca Juga