Semarang, ANTARA Jateng - Pada Oktober 2012 di Jawa Tengah terjadi inflasi 0,12 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) 131,61 poin karena terimbas kenaikan harga pasir untuk semua jenis, baik pasir kalibodri, pasir muntilan, maupun pasir gunung.



"Inflasi pada bulan Oktober 0,12 persen dibanding bulan sebelumnya lebih tinggi karena pada bulan September 2012 Jateng mengalami deflasi 0,16 persen dengan IHK 131,46 poin," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari di Semarang, Kamis.

Kepala Seksi Harga Konsumen dan Harga Perdagangan Besar BPS Jateng Rita Umami menambahkan bahwa kenaikan harga pasir terjadi karena tingginya permintaan akibat banyaknya proyek pembangunan yang ditarget selesai pada tahun anggaran 2012.

Permintaan pasir yang meningkat tersebut mengakibatkan ketersediaan pasir menipis dan harganya mengalami lonjakan.

Harga pasir kalibodri yang awalnya satu rit Rp100 ribu naik 10 persen menjadi Rp110 ribu, pasir muntilan yang sebelumnya Rp196 ribu menjadi Rp201.400,00 atau naik 2,76 persen, dan pasir gunung yang semula harganya Rp119.400,00 naik 1,68 persen menjadi Rp121.400,00.

Selain pasir, komoditas lain yang juga memberi pengaruh besar terjadinya inflasi, yakni cabai merah, emas perhiasan, daging ayam ras, dan jeruk.

Harga cabai merah keriting yang awalnya Rp12 ribu menjadi Rp14.970,00 per kilogram dan cabai merah teropong yang semula Rp14 ribu naik menjadi Rp16.100,00 per kilogram.

Begitu juga dengan harga emas perhiasan mengalami peningkatan signifikan untuk emas 22 karat atau 80 persen dari Rp474.300,00 menjadi Rp493.050,00 per gram; emas 18 karat atau 75 persen dari harga Rp462.050,00 menjadi Rp480.300,00 per gram; dan emas 10 karat atau 40 persen dari harga Rp253.788,00 menjadi Rp266.336,00 per gram.

"Emas untuk kadar yang lain juga ada kenaikan. Akan tetapi, tiga kualitas emas tersebut yang paling diminati masyarakat di Jateng," kata Rita.

Sementara itu, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah minyak goreng, gula pasir, bawang putih, kentang, dan kelapa.

Untuk harga minyak goreng curah tanpa merek dari Rp10.536,00 menjadi Rp9.845,00 per kilogram, sementara untuk minyak goreng kemasan dari harga Rp13.546,00 turun menjadi Rp13.515,00 per liter.

Jam Jam menambahkan bahwa jika dilihat dari enam ibu kota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi. Sementara di empat kota survei biaya hidup di Jateng, hanya satu yang mengalami deflasi, yakni Kota Tegal dengan 0,10 persen (IHK sebesar 134,22 poin).

Tiga kota lainnya, yakni Kota Surakarta terjadi inflasi 0,32 persen (IHK sebesar 123,83 poin), Kota Purwokerto terjadi inflasi 0,29 persen (IHK sebesar 133,26 poin), dan Kota Semarang terjadi inflasi 0,07 persen (IHK sebesar 133,76 poin).

"Laju inflasi tahun kalender Oktober 2012 sebesar 3,83 persen, sementara laju inflasi 'year on year', yakni Oktober 2012 terhadap Oktober 2011 sebesar 4,74 persen atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2011 dengan inflasi 3,37 persen," demikian Jam Jam Zamachsyari.

Editor : Zuhdiar Laeis


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar