Purwokerto, ANTARA Jateng - Puluhan sopir taksi Kobata menggeruduk Kantor Redaksi Harian Satelit Post di Jalan Dr Angka Purwokerto, Selasa siang.



Kedatangan mereka guna meminta Redaksi Harian Satelit Post untuk meralat pemberitaan koran tersebut yang terbit Selasa.

Menurut para sopir taksi, berita berjudul "Delapan Taksi Nakal Terjaring Razia" sangat merugikan mereka.

"Kami sangat disudutkan karena dikatakan argometernya rusak. Padahal, argometer kami tidak rusak," kata salah seorang sopir taksi Kobata, Darsono.

Oleh karena itu, kata dia, Paguyuban Sopir Taksi Kobata menuntut agar Redaksi Harian Satelit Post untuk meralat berita tersebut pada koran terbitan Rabu (12/12).

Rombongan sopir taksi ini ditemui Pemimpin Redaksi Harian Satelit Post Yon Daryono serta Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bidang Perlindungan Konsumen dan Barang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Willy AN Sigarlaki yang diundang ke kantor tersebut.

Saat memberi penjelasan kepada para sopir taksi, Willy AN Sigarlaki mengatakan, razia yang digelar Balai Metrologi Disperindagkop Jateng bersama Satuan Polisi Lalu Lintas Kepolisian Resor Banyumas pada Senin (10/12) sebagai upaya melindungi konsumen.

Menurut dia, argometer yang terpasang di dalam taksi terkait dengan aspek hukum sehingga setiap tahun harus ditera ulang untuk mengetahui masih layak atau tidak layak.

"Tolong itu (argometer, red.) dipakai selama menjalankan usaha lewat taksi," katanya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Satelit Post Yon Daryono mengatakan, pihaknya siap memberikan tempat khusus sebagai klarifikasi atau ralat pada koran yang terbit Rabu (12/12) meskipun berita tersebut tidak menyudutkan Kobata.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Willy AN Sigarlaki maupun janji dari Yon Daryono, para sopir taksi meninggalkan kantor Harian Satelit Post.



Editor : Achmad Zaenal M


Komentar Pembaca
Dimas Djayeng
konsumen harus dilindungi dong..masa argo rusak dibiarin aja.... Pihak KoBATA dalam hal ini tentu tidak menghormati Badan meteorogi Disperindagkob Jateng kalau gitu,mereka punya parameter sendiri buat ngetes argometernya,nih atau argometernya jangan jangan belum bersertifikasi......Pengalaman saya di jakarta praktek argo rusak banyak bung....apalagi ini di purwokerto kota yang sedang berkembang,dimana konsumen belum tahu........Berapa sih konsumen pengguna taksi di kota ini..Paling cuma 38% ini masukan buat phak Kobata...jangan main gerudug Pers..hormati dong kalangan pers,konfirmasi dulu ke meteorologi ,minta salinan berita acaranya,sekalian laporannya juga,tindakan para sopir baik dikoordinir atau tidak dan sepengatahuan manajemen Kobata atau tidak ,itu ngawur dan tidak etis,Logikanya jika tidak dikoordinir dan inisiatif sopir sendiri berarti cuma pengin bener sendiri tu sopir,kalo pihak manajemen tahu berarti pihak manajemen gak tau prosedur koordinasi yang baik......mungkin belum punya ISO tuh koperasi Kobata........

Sabtu, 08 Peb 2014 12:13:08 WIB

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar