Sejumlah perempuan mengerjakan produk batik di Studio Kelompok Batik Mandala Borobudur, Dusun Gendingan, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Senin (10/12). Masyarakat setempat melalui sejumlah kelompok usaha batik merintis produksi batik dengan mengutamakan motif khasanah Candi Borobudur. (Hari Atmoko/dokumen).

Berita Terkait
Borobudur, ANTARA Jateng - Tiga perempuan duduk di dingklik Studio Kelompok Batik Mandala Borobudur dengan tangan masing-masing tampak asyik memainkan canting untuk membatik di atas kain berwarna dasar kuning keemasan.

Suara mesin gergaji sesekali terdengar keras dioperasikan seorang tukang yang sedang menggarap tempat pencelupan dan pewarnaan batik di satu sudut studio seluas 23X8 meter persegi, di samping rumah tinggal Edi Waluyo, Kepala Dusun Gendingan, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tiga perempuan yang tinggal di sekitar Candi Borobudur itu adalah Diyem, Siti Zaimah, dan Ivur.

Mereka adalah tiga di antara sembilan warga setempat yang aktif di kelompok itu, memproduksi batik khas Borobudur.

Total anggota kelompok itu 23 orang, terutama kalangan perempuan berasal dari Dusun Ngaran I, Jayan, Janan, Kelon, Kujon, Bogowati Lor, Bogowati Kidul, dan Gendingan.

"Wah kalau sudah 'mencanting' itu kok rasanya asyik, rasanya senang," kata Siti Zaimah (33) yang awal Desember tahun lalu hingga tiga bulan berikutnya, bersama sekitar 60 orang lainnya mengikuti pelatihan membatik secara mandiri di desanya.

Sebelumnya, Siti Zaimah membuka usaha warung makan di kompleks PT Taman Wisata Candi Borobudur, akan tetapi kemudian beralih usaha produksi batik setelah mengikuti pelatihan tersebut.

Siang itu, tiga perempuan tersebut sedang melanjutkan membatik di atas kain masing-masing seluas 180 meter persegi dengan motif mereka namai "Kalamakara", yang didesain sesepuh kelompok usaha batik itu, Jack Priyono.

"'Empun kathah' (Sudah banyak, red.)," kata Zaimah yang suaminya, Nur "Jali" Rochmad, bekerja sebagai pemandu wisata di Candi Borobudur, ketika menyebutkan jumlah produksi kelompok tersebut selama sekitar setahun terakhir ini.

Produk batik mereka dari kawasan Candi Borobudur itu mungkin memang belum sekondang produk batik dari kota-kota batik yang sudah dikerjakan secara turun temurun seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem, Solo, dan Yogyakarta.

Perajin batik Borobudur memberi nama untuk setiap produk mereka dengan mengambil khasanah Candi Borobudur antara lain batik "Kalamakara", "Seribu Stupa", "Kalpataru", "Relief", "Bunga Semboja Layu", "Stupa Rembulan", dan "Daun Awar-Awar". Satu kain batik umumnya dikerjakan hingga seminggu dengan jam kerja harian di studio itu sejak pukul 13.00-16.30 WIB.

"Tapi kalau sedang cukup banyak pesanan, kami bekerja bisa sampai malam hari, pukul 20.00 WIB," katanya.

Jack mengatakan secara khusus mengeksplorasi Candi Borobudur untuk motif batik produk para perajin kelompok tersebut, agar memiliki kekhasan dibandingkan dengan produk batik dari kota-kota lainnya.

Pemasaran batik Borobudur hingga saat ini belum secara massal dan luas karena masih tahap rintisan dengan berbagai perbaikan dan pengembangan, antara lain menyangkut pewarnaan, desain, serta "pencantingan".

Namun, mereka juga sudah berencana memasarkan batik Borobudur kepada kalangan komunitas buddhis di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, melalui jejaringnya. Pihaknya pernah menjual produk batik itu kepada PT TWCB sebanyak 70 lembar kain.

"Kalau sampai sekarang, pemasarannya masih sebatas antarteman, saudara, untuk pameran dan promosi. Sudah ada yang membeli secara person dari Jakarta, Lampung, dan PT TWCB," katanya.

Beberapa waktu lalu, wisatawaan mancanegara antara lain dari Australia, Belanda, Venezuela, Inggris, dan Prancis juga berkunjung ke studio Kelompok Batik Mandala Borobudur.

Mereka juga turut mencoba ikut membatik bersama anggota kelompok itu dan selanjutnya karyanya dibawa pulang sebagai kenang-kenangan berwisata di kawasan Candi Borobudur.

Jack yang didampingi beberapa kepala dusun setempat yang turut aktif mengurus kelompok usaha tersebut seperti Sutarjo (Kadus Kelon), Edi Waluyo (Kadus Gendingan), dan Mugiman (Kadus Bogowati Kidul) menyebut harga setiap produk batik Borobudur mereka masih sebatas "mahar", antara Rp60.000 hingga Rp300.000.

"Memang tidak ada tradisi membatik di Borobudur, dan kami sedang merintis. Ini juga terinspirasi dari penerapan kewajiban menggunakan sarung batik untuk pengunjung Candi Borobudur sejak beberapa tahun terakhir. Taman (PT TWCB, red.) masih harus mendatangkan produk batik dari luar Borobudur. Maka untuk tahap awal, itu sasaran pemasaran kami," katanya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadikan Borobudur (Magelang) salah satu di antara lima daerah di Indonesia, sebagai daerah sasaran pengembangan kerajinan batik.

Empat daerah lainnya, yakni Batang (Jateng), Pacitan (Jawa Timur), Toraja (Sulawesi Selatan), dan Manggarai (Nusa Tenggara Timur).

Sekitar 60 warga kawasan Borobudur mengikuti pelatihan batik di Kecamatan Borobudur pada 1-5 Desember 2012 di bawah bimbingan Koordinator Pengembangan Sentra Batik Nasional, Wiliam Kuan Lie .

Mereka terdiri atas delapan kelompok batik di kawasan Candi Borobudur seperti Kelompok Batik Mandala Borobudur dan KB Chatra Desa Borobudur, KB Cahya Gautama dan KB Norek Desa Majaksingi, KB Lumbini Desa Wanurejo, KB Watu Kendhil Desa Candirejo, KB Menoreh Desa Giri Tengah, dan KB Tulis Genital Desa Ringin Putih.

"Tahun depan masih akan ada pelatihan lanjutan, juga pelatihan kewirausahaan, dan pemasaran. Program pendampingan ini akan sampai tiga tahun ," kata anggota Tim Program Pengembangan Sentra Industri Kreatif Batik dan Produk Batik Kemenparekraf Aris Eko Widiyanto.

Oleh karena masih dalam tahapan rintisan, modal utama para perajin batik Borobudur itu adalah semangat mereka mendidik diri, guna menghasilkan produk warisan budaya bangsa tersebut yang menemukan jalannya baik secara ekonomi maupun kemandirian usaha.

Siti Zaimah pun mengaku bersama suaminya sudah menyiapkan beberapa keperluan membuka toko yang akan dinamai "Rumah Batik Borobudur", tempat memajang produk kerajinan batiknya, tak jauh dari kompleks PT TWCB.

"Penginnya juga bisa mandiri, sudah mencoba juga untuk membuat batik sendiri di rumah dengan modal sendiri. Beberapa sudah ada yang kami titipkan di 'art shop' dekat candi (Borobudur, red.), ada satu sampel juga yang dibawa saudara ke Jakarta," katanya.

Nama besar Candi Borobudur agaknya menjadikan para perintis batik setempat optimistis menemukan jalan untuk masa depan kerajinan itu.

Impian mereka, menjadikan batiknya spesialis Candi Borobudur dengan mengeksplorasi ciri khas bangunan warisan budaya dunia yang juga peninggalan Dinasti Syailendra pada abad ke-8 itu, menjadi beragam motif batik.

"Itu kami punya," kata Jack Priyono.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca
Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar