Sejumlah pekerja membersihkan bangunan kuno berupa pagar batu di situs Liyangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Senin (18/6). Balai Arkeologi Yogyakarta kembali melakukan ekskavasi di areal situs perkampungan zaman Mataram Kuno Abad ke X tersebut dengan menggali di lima titik diantaranya menelusuri struktur bordes atau batu-batu bulat, tangga halaman dan pagar candi yang belum ditemukan ujungnya. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/Koz/Spt/12.

Berita Terkait
Temanggung, ANTARA Jateng - Situs Liyangan yang ditemukan di sebuah tempat penambangan galian golongan C di Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah terus dilakukan penggalian dan penelitian oleh para arkeolog untuk mengungkap sejarah situs tersebut.



Secara bertahap tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah melakukan ekskavasi pada situs yang ditemukan pertama pada tahun 2000 tersebut.

Ekskavasi terakhir tahun 2012 yang berlangsung pada pertengahan Desember juga melibatkan ahli dari Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta untuk meneliti dari segi ilmu geologi karena batuan kuno serta sisa material vulkanik letusan Gunung Sindoro yang diperkirakan tahun 900-an merupakan wewenang pakar geologi.

Ketua Tim Peneliti Situs Liyangan, Sugeng Riyanto, mengatakan bahwa Situs Liyangan yang ditemukan di Kecamatan Ngadirejo itu merupakan situs paling lengkap dan istimewa untuk mengungkap kehidupan zaman Mataram Kuno.

Benda-benda budaya bernilai sejarah tinggi berhasil ditemukan oleh tim ekskavasi, antara lain, pecahan gerabah, keramik, tulang belulang, mata tombak, batu asah, talut struktur bonder, lima batur dengan luasan bervariasi dan arang kayu yang diduga sisa bangunan rumah.

Sugeng mengatakan, untuk mengungkap temuan pecahan gerabah, keramik, tulang belulang, mata tombak, dan batu asah, benda-benta tersebut dibawa ke Balai Arkeologi untuk penelitian lebih lanjut.

Menurut dia, temuan gerabah berupa gentong dan kuali merupakan produk lokal dengan bahan dasar tanah liat, sedangkan keramik berbahan kaolin diperkirakan produk China pada abad X.

"Temuan keramik menunjukkan telah ada hubungan dagang antara Mataram Hindu dan China," katanya.

Pada ekskavasi ketiga ini tim peneliti juga menemukan lima batur batu, yang sebelumnya di atas batur itu terdapat bangunan kayu dengan atap ijuk. Keberadaan bangunan itu berdekatan dengan candi, diduga sebagai tempat persiapan segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara pemujaan dan dapat pula tempat beristirahat.

Luasan batur tersebut bervariasi, ada yang berukuran 5,78 meter x 6,70 meter, 7,10 meter x 7,50 meter, dan ada juga 8 meter x 8 meter. Batur terluas ditemukan di dekat sungai, yang sudah terlihat 11 meter x 21,35 meter dan sebagian masih terpendam material tanah dan bebatuan.

Satu di antara batur tersebut, katanya, sebagai tempat pemujaan yang ditandai berlantai batu dan ada tumpukan batu di tengahnya.

Berdasarkan hasil temuan, lanjut dia, kompleks Situs Liyangan merupakan sebuah tempat hunian manusia yang perdabannya telah maju.

Hal itu dibuktikan temuan tempat peribadatan, permukiman, dan kawasan pertanian. Kawasan pertanian terletak sekitar 200 meter dari tempat pemujaan atau di seberang sungai kecil.

"Letak bangunan telah terstruktur, ada talut, saluran irigasi, dan bangunan yang menunjukkan telah tertata," katanya.

Menyinggung luasan situs, Sugeng belum bisa memastikan, konsentrasi tetap pada ekskavasi dan penelitian sampai selesai. Dia juga belum bisa menentukan kapan lagi akan dilakukan ekskavasi lanjutan, namun dipastikan pada tahun 2013.

Situs Liyangan menjadi prioritas ekskavasi, katanya, karena potensi, luasan situs, kompleksitas dan potensinya tinggi untuk penelitian. Situs Liyangan adalah aset budaya warga Temanggung, bentuknya tinggalan peradaban Mataram Kuno.

Ia menuturkan bahwa keunikan Situs Liyangan, antara lain, terdapat tiga lubang berisi pasangan yoni dan lingga pada candi pemujaan, batu yang tersusun bukan dari satu jenis batu dan merupakan temuan kompleks antara hunian, pemujaan dan persawahan.

Tim belum memastikan candi yang ditemukan sebagai candi tunggal atau induk karena masih ada kemungkinan ditemukannya candi lain mengingat masih ada tumpukan material di sekitar areal.

"Situs Liyangan masih menyimpan banyak misteri. Penelitian tidak bisa buru-buru dan harus teliti. Warga harus menjaga cagar budaya, karena mempunyai sifat langka, mudah rusak, dan tidak bisa diperbaiki," katanya.

Peran warga sangat besar dalam menjaga kelestarian Situs Liyangan dan ada kelompok masyarakat yang peduli terhadap temuan benda sejarah di kompleks penambangan tersebut

Ketua Kelompok Peduli Liyangan, Suyanto, mengatakan bahwa pihaknya akan selalu membantu tim peneliti dalam melakukan ekskavasi.

Ia berharap pemerintah lebih serius lagi menangani temuan situs Liyangan karena sejak ditemukan pada tahun 2000 hingga sekarang belum ada perubahan yang signifikan.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca
Eko Novi
dimanapun,sejarah sebuah peradaban itu adalah kemakmuran sebuah bangsa jadi kita harus jaga dan mengali peradapan nenek moyang untuk menemukan segala ilmu dan pengetahuan di situs liyangan , seperti sistem perairan,pertanian agar kita dapat terapkan di masa sekarang untuk menemukan kejayaan peradapan masa lalu. saya sangat kagum sejarah indonesia sudah jauh sangat modern di bandingkan negara lain ,

Senin, 11 Nov 2013 01:30:20 WIB

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar