Pekerja menyelesaikan pembuatan relief kaligrafi di atas lempengan Kuningan di galeri seni "Karya Abadi" Desa Rejosari, Pringsurat, Pringsurat, Temanggung, Jateng, Selasa (7/8). Kerajinan kaligrafi relief kuningan biasa dipasang sebagai hiasan rumah maupun masjid dan telah dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia, dengan harga berkisar Rp130.000- Rp1.750.000 per buah tergantung ukuran. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/ss/ama/12

Berita Terkait
Pati, ANTARA Jateng - Produk kuningan dari Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, cukup dikenal oleh masyarakat di Tanah Air, bahkan hingga mancanegara.



Sebutan Kecamatan Juwana sebagai sentra kuningan saat itu mampu mendorong hampir sebagian besar warga setempat untuk menekuni usaha sebagai perajin aneka produk dari bahan kuningan.

Terlebih lagi, bahan baku yang digunakan merupakan bahan baku bekas dengan harga yang relatif cukup murah dan mudah diperoleh.

Menurut Kasi Industri Logam, Mesin, Elektronika, dan Aneka (ILMEA) pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati, Sutopo, jumlah perajin kuningan di Kecamatan Juwana dan sekitarnya awalnya mencapai 600-an pengrajin.

"Produk yang dihasilkan cukup bervariasi, seperti suku cadang kompor gas, kran air, gagang pintu, meteran air, patung, lampu hias, serta produk lainnya dari bahan kuningan," ujarnya.

Munculnya ratusan perajin kuningan, di antaranya karena Kecamatan Juwana merupakan sentra usaha tersebut serta tersedianya bahan baku yang dengan harga murah dan pangsa pasar kuningan yang masih terbuka luas.

Akan tetapi, lanjut dia, masa kejayaan perajin kuningan berangsur turun, yang dibuktikan dengan jumlah pengrajin yang semakin berkurang drastis.

Saat ini, perajin kuningan yang masih beroperasi diperkirakan hanya 150-an pengrajin, sedangkan pengrajin yang benar-benar aktif berproduksi secara kontinu diperkirakan hanya 50-an pengrajin.

Bahkan, lanjut dia, puluhan pengrajin tersebut tidak sepenuhnya memproduksi produk kuningan karena harga bahan baku untuk membuat kuningan semakin mahal dan sulit dijangkau oleh perajin skala kecil.

Ia menduga gulung tikarnya sejumlah perajin kuningan karena dipicu persoalan bahan baku untuk membuat kuningan saat ini diizinkan oleh pemerintah untuk diekspor ke China.

Dampaknya, kata dia, harga jual bahan baku bekas yang biasa digunakan untuk membuat kuningan tersebut melambung karena tawaran harga pembeli asing cukup menggiurkan para pengepul bahan baku kuningan untuk menyetorkan daripada menawarkannya kepada pengrajin kuningan.

Perajin kuningan asal Juwana "Krisna Brass", Kania Susanto, mengakui bahwa harga bahan baku untuk membuat kuningan saat ini melonjak hingga Rp45 ribu per kilogram.

Padahal, kata dia, pada tahun 90-an harganya relatif sangat murah, yakni Rp2.500,00 per kilogramnya.

Secara bertahap harga bahan baku yang sangat dibutuhkan ratusan perajin kuningan tersebut merangkak naik, hingga 2005 mencapai Rp18 ribu/kg.

"Harga tersebut masih bisa dijangkau para perajin. Akan tetapi, ketika harganya menembus angka Rp35 ribu pada tahun 2010 secara perlahan perajin kuningan mulai kesulitan mempertahankan usahanya," ujarnya.

Perajin kuningan yang masih tetap bertahan, kata dia, tidak sepenuhnya memproduksi produk kuningan karena semakin mahalnya harga bahan bakunya.

Sebagian perajin, kata dia, mulai beralih memproduksi produk yang menggunakan bahan baku selain kuningan, seperti logam.

"Terkadang, kami melakukan kombinasi antara bahan baku kuningan dengan bahan baku lain, seperti kayu, plastik, maupun besi, sehingga kesan produk kuningan tidak hilang," ujarnya.

Mahalnya harga bahan baku, katanya, berdampak pada pesanan yang biasanya diterima dari pelanggan dari Belanda setiap enam bulan, kini jarang pesan. Demikian halnya, pembeli dari beberapa negara lain juga sudah tidak melakukan pemesanan.

Ibasnya jumlah pekerja yang dipertahankan hanya 150-an orang, dibanding sebelumnya mencapai 250 orang.

Perajin Dituntut Kreatif
Perajin kuningan yang mulai kesulitan mempertahankan usahanya, tidak perlu beralih profesi karena masih ada produk yang bisa dihasilkan dengan keahlian yang ditekuni selama bertahun-tahun, yakni dengan menciptakan produk yang menggunakan bahan baku lain selain kuningan.

"Kami sudah berupaya membantu perajin kuningan untuk mengembangkan produk lainnya yang tidak harus menggunakan bahan baku kuningan, seperti pengembangan logam," ujar Sutopo.

Dengan demikian, kata dia, perajin dituntut untuk berpikir kreatif dalam menciptakan produk yang hampir sama dengan produk kuningan, namun tampilannya cukup menarik.

Selain itu, kata dia, perajin juga bisa melakukan kombinasi bahan baku kuningan dengan bahan baku lainnya sehingga harga jual produk masih bisa dijangkau masyarakat umum.

Untuk mempertahankan sentra kerajinan kuningan di Kecamatan Juwana, kata dia, Pemkab Pati berulang kali menyelenggarakan pelatihan membuat produk dari bahan logam terhadap perajin kuningan yang sebelumnya gulung tikar.

"Kami juga siap memfasilitasi keinginan untuk menekuni usaha lain, seperti batik bakaran yang juga menjadi ciri khas Pati," ujarnya.

Perajin yang sebelumnya mengikuti pelatihan membuat produk dari bahan logam, katanya, mendapat bantuan peralatan untuk menguji kekuatan logam.

Pasalnya, kata dia, sudah ada perajin yang menjalin kerja sama dengan industri mesin, seperti Kubota.

Selain itu, kata dia, ada pula yang menjalin kerja sama dengan industri dalam hal pembuatan bantalan rel kereta api serta kerja sama dalam pembuatan komponen kompor gas.

"Kami akan berupaya membina kemitraan dengan sejumlah pihak, dengan catatan perajin juga mengikuti ketentuan yang ditetapkan, salah satunya kualitas produknya harus dipertahankan untuk menjaga kepercayaan," ujarnya.

Pertahankan Sentra Kuningan
"Juwana sebagai sentra usaha kuningan tetap harus dipertahankan," ujar Kasi ILMEA pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati Sutopo.

Untuk mempertahankannya, kata dia, pemkab akan berupaya kembali meminta kebijakan pemerintah pusat agar membatasi ekspor bahan baku bekas, terutama yang biasa digunakan untuk membuat produk kuningan.

Sebelumnya, kata dia, pemkab bersama perwakilan pengusaha kuningan sudah berupaya meminta pelarangan ekspor bahan baku kuningan atau dibatasi kuotanya.

Akan tetapi, lanjut dia, hingga berulang kali terjadi pergantian pemerintahan usulan tersebut belum juga ditindaklanjuti.

Meski demikian, hasil tersebut tidak akan menyurutkan niat pemda setempat serta pengusaha kuningan dalam memperjuangkan pelarangan kembali ekspor bahan baku bekas yang biasa digunakan untuk membuat aneka produk kuningan.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar