Masyarakat kawasan Candi Borobudur di Dusun Tegal Wangi, Desa Tegal Arum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, menggelar prosesi "Jalasutra", Rabu (15/5), sebagai simbol upaya budaya mereka menghadapi Pemilihan Gubernur Jateng mendatang. Prosesi itu rangkaian agenda budaya "Ruwat-Rawat Borobudur" (2 Mei-16 Juni 2013). (Hari Atmoko/dokumen).

Berita Terkait
Borobudur, Antara Jateng - "'Pancasila dhasaring negara kita. Dadiya pugeraning budi pekerti. Undhang-Undhang Dhasar Patang Puluh Lima. Upayakna supaya tetep lestari'," itulah senggakan tembang berbahasa Jawa berjudul "Pancasila" saat mengawali prosesi "Jalasutra" masyarakat kawasan Candi Borobudur.



Sepenggal syair tembang langgam kinanti karangan grup musik tradisional "Sholawat Pitutur Srimudatomo" Dusun Tegal Wangi, Desa Tegal Arum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pimpinan Puspodiharjo (67) itu, artinya "Pancasila dasar negara kita. Jadilah tatanan budi pekerti. Undang-Undang Dasar 1945. Lestarikan selalu".

Mereka yang berjumlah sekitar 25 orang itu, bersama puluhan warga lainnya kemudian berarak dari lokasi berinstalasi bambu sebagai tempat sekolah lapang masyarakat desa setempat, sekitar 5 kilometer barat Candi Borobudur itu, ke halaman rumah seorang anggotanya, Muhson (73).

Puluhan anggota grup musik serupa berasal dari Dusun Gleyoran, Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, telah duduk bersila di tikar dalam rumah seluas 63 meter persegi yang berdinding "gedhek" (anyaman bambu) dan berlantai tanah itu.

Jala ikan ukuran besar digantung di tengah-tengah mereka yang duduk bersila di dalam rumah itu, sedangkan bagian tikar bertabur kembang mawar warna merah dan putih.

Muhson didampingi istrinya, Titik (70), duduk di balai-balai di teras rumah sederhana tersebut. Muhson setiap hari bekerja sebagai buruh tani dengan pekerjaan sampingan pembuat "sosok", berupa anyaman bambu secara tradisional, untuk petarangan ayam, sedangkan Titik tukang pijat.

Tabuhan musik "sholawat pitutur" yang antara lain berupa jedor, kendang, dan terbang, dari dalam rumah itu, seakan menyambut kedatangan mereka yang hendak memulai prosesi "Jalasutra". Prosesi itu rangkaian agenda budaya "Ruwat-Rawat Borobudur" (2 Mei--16 Juni 2013) yang diselenggarakan kerja sama komunitas masyarakat Borobudur, "Warung Info Jagad Cleguk", Yayasan Soloensis, dan Peguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Borobudur.

Tiga penari anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Jawa Tengah, masing-masing Ayu Nurhidayah, Riski Intan Batari, Riza Sahara menyuguhkan tarian "Gema Nusantara, sedangkan dua lainnya, Lazuardi El Dwi Andaru dan Muhammad Sigit, mempersembahkan tarian "Permadi Suryuputra" di halaman rumah Muhson.

Seniman kawasan Gunung Merapi Agus "Merapi" Suyitno performa gerak ritual, berkolaborasi dengan penyair Kota Magelang Es Wibowo melalui karya geguritan berjudul "Branjang Sosok".

"'Jalasutra branjang sosok. Sing dijak iwak segara. Kang mbranjang Dewa Baruna. Pithing alit pating jlerit. Atine lara krasa dijiwit. Jalasutra branjang sosok. Sing njala rasukan rasa. Kang dibranjang ligan raga. Kawula alit njaluk tulung. Tiba rekasa malah dipenthung'," demikian geguritan dua bait itu.

Terjemahan geguritan itu kira-kira,"Jalasutra beronjong 'sosok'. Yang diajak ikan laut. Yang menangkap Dewa Baruna. Jepitan kecil membuat jeritan. Hati sakit terasa dicubit. Jalasutra beronjong 'sosok'. Penjala kerasukan rasa. Yang diberonjong adalah raga. Rakyat kecil meminta tolong. Mereka susah malah dipukul".

Jala yang digantung di dalam rumah Muhson kemudian diturunkan oleh sejumlah orang. Seluruh peserta prosesi yang mengenakan pakaian adat Jawa kemudian berjalan kaki menuju belik di tepi dusun yang berdampingan dengan areal kecil persawahan setempat, berjarak sekitar 200 meter dari rumah Muhson.

Tabuhan musik "sholawat pitutur" mengiring prosesi itu, beberapa orang membawa "uncet" (kenduri) dengan tampah yang isinya, antara lain, nasi putih, kerupuk, kuluban, dan teri, serta sesaji berupa palawija, seperti lemet, lemper, meniran, kacang rebus, tape, gethuk, tales, ganyong, mberot, dan pisang rebus.

Taburan kembang mawar mewarnai sepanjang prosesi yang terkesan semarak diikuti warga setempat.

Seorang pemuka warga dusun setempat, Sumiyar (59), sambil membawa jala berdiri di tepi belik yang setiap hari airnya untuk memenuhi kebutuhan warga. Tak seberapa lama kemudian, jala ditebarkannya di belik itu, yang tampaknya sebagai simbol harapan masyarakat akan pesta demokrasi yang bakal diikuti juga oleh warga setempat dalam waktu dekat ini.

Masyarakat setempat bersama warga di berbagai kabupaten dan kota lainnya di Jateng, bakal mengikuti pemilihan gubernur yang hari pemilihannya Minggu (26/5). Tiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur pada Pilkada Jawa Tengah itu, yakni Hadi Prabowo-Don Murdono diusung PKS, PKB, Partai Gerindra, PPP, Partai Hanura, dan PKNU, Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo (Partai Demokrat, Partai Golkar, dan PAN), serta Ganjar Pranowo-Heru Sujatmoko (PDI Perjuangan). Saat ini, tahapan pilgub sudah masuk kampanye para kandidat.

Meskipun telah terdaftar sebagai calon pemilih pada pilgub mendatang, Muhson dengan bahasa Jawa mengaku belum mengetahui para kandidat tersebut. Namun, pada saatnya dia akan memberikan suara di tempat pemungutan di dusun setempat.

"Sampai sekarang belum tahu siapa-siapa nama calonnya. Besok saat pemilihan kalau dipanggil akan mencoblos," kata Muhson yang sejak 1967--1990 sebagai pekerja perkebunan kopi, merica, dan lada di Lampung Utara, Provinsi Lampung itu.

Ia mengharapkan Jawa Tengah lima tahun mendatang dipimpin oleh figur yang lebih baik, mampu memberikan pengayoman, dan menenteramkan masyarakat, serta menyejahterakan warga.

Puspodiharjo menjelaskan tentang prosesi "Jalasutra" pada Rabu (15/5) itu sebagai gagasan budaya kreatif masyarakat setempat, khususnya anggota grup musik "sholawat pitutur" yang dipimpinnya. Jalasutra berasal dari dua kata, yakni jala yang artinya jaring dan sutra yang maksudnya suci.

"Masyarakat ingin menyucikan diri melalui simbol prosesi ini agar memilih gubernur yang terbaik dengan hati dan pikiran yang bening," katanya.

Namun, katanya, prosesi itu juga simbol pengharapan masyarakat terhadap kepemimpinan Jateng pada masa mendatang. Mereka berharap siapa pun gubernur mendatang adalah figur yang bijaksana, jujur, dan adil.

"Kami ini kawula cilik, tentunya yang bisa dilakukan hanya berharap, berharap terpilih pemimpin yang 'nggatekke' (memperhatikan) orang-orang seperti kami ini," katanya.

Saat rombongan prosesi tiba kembali di tengah dusun mereka, jala yang mereka tebarkan di belik setempat, kemudian secara simbolis diserahkan Muhson kepada seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Magelang M. Yasir Arrofat.

Sebelum dilanjutkan dengan sejumlah pementasan kesenian tradisional, seperti grasak, warok bocah, dan jatilan, di halaman rumah seorang warga dusun itu, Yasir berkesempatan menyosialisasikan Pilgub Jateng kepada masyarakat setempat.

Pada kesempatan itu, sejumlah petugas KPU Kabupaten Magelang membagikan kepada masyarakat, antara lain, buku tentang visi, misi, dan program para kandidat, serta selebaran tentang profil para pasangan calon.

Yasir yang juga Divisi Sosialisasi dan Penghitungan Suara KPU Kabupaten Magelang itu, antara lain, mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada pilgub mendatang dan menyimak terlebih dahulu secara baik visi, misi, dan program para kandidat.

"Jangan jadi warga yang tidak menggunakan hak pilih. Coblos pilihan masing-masing. Cermati profilnya, visi, misi, dan programnya. Pilih yang terbaik," katanya.

Prosesi "Jalasutra" yang dijalani masyarakat kawasan Candi Borobdur itu rupanya simbol budaya untuk mereka memulai menyimak pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng yang akan dipilih saat tiba hari pemungutan suara.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar