Sejumlah seniman dengan membawa foto Van Lith mengikuti karnaval dalam peringatan 150 tahun kelahiran tokoh rohaniawan Katolik, Van Lith di Jalan Kartini, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (26/5). Perayaan yang dibalut dengan seni budaya tersebut merefleksikan kiprah Van Lith dalam hal pengembangan pendidikan, politik, dan kebudayaan di Indonesia. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ss/pd/13

Berita Terkait
Magelang, Antara Jateng - Empat batang hio dengan pucuk membara, masing-masing terselip di jari jemari kiri seniman Komunitas Lima Gunung, Nana Ayom. Dengan gemulai, tangannya menari mengikuti irama tembang Jawa yang dilantunkannya secara solo, tanpa tabuhan gending gamelan.



Ribuan orang khususnya mereka yang selesai mengikuti misa syukur secara konselebrasi memperingati 150 Tahun Van Lith dengan konselebran utama Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta, seakan terhening menyimak tembang "Juru Demung" itu.

"'Sirna memalaning praja. Suka syukur mring Ywang Agung. Rinasa sakjroning kalbu. Tuhu lamun maha welas. Asih mring sagung tumuwuh. Kacaryan sigra manembah. Amemalat tyas matrenyus'," begitu syair tembang itu, yang artinya "Hilang semua duka. Ucap syukur pada Yang Maha Esa. Terharu dengan kebesaran dan pemberian-Nya pada semua makhluk. Dan semesta memuja dalam keharuan hati".

Empat penari lainnya, masing-masing Siti Nurkhasanah, Siti Rifaatul Mahmudah, Mudrikah Zaini, dan Ita Purnamasari, memainkan performa tari mengelilingi kolam penuh enceng gondok dan di tengahnya tegak berdiri patung Romo Van Lith.

Sejumlah lainnya yang berkostum ala begawan namun bermuka tertutup topeng kayu, dengan masing-masing membawa umbul-umbul bergambar topeng duduk bersila mengitari tepian kolam itu, sedangkan beberapa lainnya yang memerankan performa dukun, bersila juga di tempat dengan taburan kembang mawar itu dengan di depan masing-masing berupa tembikar penuh kemenyan yang asapnya membumbung.

Performa seni itu, bagian dari pementasan secara meriah oleh 329 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang, dalam rangka peringatan 150 Tahun Van Lith di tiga panggung terbuka di halaman Museum Misi Muntilan.

Kiprah Romo Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith yang lahir di Belanda pada 17 Mei 1863, dikatakan oleh Koordinator Umum Panitia Peringatan 150 Tahun Van Lith Romo G. Budi Subanar, dikaitkan dengan pendidikan untuk pribumi dengan model asrama dan pembangunan gereja Katolik yang membumi di Indonesia, khususnya Jawa.

Van Lith yang seorang pastor ordo Serikat Yesus itu, datang ke Jawa pada 1896, belajar budaya dan adat istiadat Jawa, menjalankan misi Katolik di Hindia Belanda hingga meninggal dunia di Semarang pada 9 Januari 1926, serta kemudian dimakamkan di Kerkof Muntilan, dekat kompleks SMA Van Lith yang dirintisnya sejak 1904.

Peristiwa Sendangsono di kawasan Pegunungan Menoreh di Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, relatif tak jauh dari Muntilan, Kabupaten Magelang, Jateng pada 14 Desember 1904, juga tidak lepas dari peran utama Romo Van Lith.

Sejumlah tokoh Katolik pribumi yang mendapat sentuhan pendidikan Van Lith dan kemudian menyumbangkan karya penting untuk Indonesia, antara lain Monsinyur Albertus Soegijapranata, Ignatius Joseph Kasimo, dan Monsinyur Djajaseputro.

Selain itu, W.J.S. Purwadarminto (penyusun kamus Bahasa Indonesia), C. Hardjosubroto (perintis gending gerejawi), B. Margono (perintis gambar punakawan), C. Simanjuntak (pencipta lagu nasional "Maju Tak Gentar", "Tanah Tumpah Darah", "Teguh Kukuh Berlapis Baja", "Indonesia Tetap Merdeka", dan "Pada Pahlawan".), L. Manik (pencipta lagu), Frans Seda (ekonomi), dan Yosaphat Soedarso, (pahlawan nasional yang gugur di Laut Aru).

"Anak didik Van Lith menjadi tenaga-tenaga andal di berbagai bidang, menjadi tanda kehadiran gereja di berbagai pelosok Indonesia, memberi sumbangan khas seturut dengan keahlian untuk pembentukan Indonesia," kata Romo Banar yang juga pengajar Program Magister Ilmu Religi Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu.

Berbagai petikan tulisan Romo Van Lith, seperti tertulis dalam panduan misa peringatan itu, seakan ungkapan berbagi kepada provinsial ordonya kala itu. Kutipan surat tersebut seakan menyiratkan perkembangan upaya yang dirintis Van Lith untuk membalik kehidupan masyarakat di Tanah Hindia Belanda agar lebih baik pada masa mendatang.

"Di sini, para misionaris membiarkan para siswa mempertahankan kebiasaan mereka. Mereka dibiarkan bebas. Artinya, para siswa tidak dididik seperti orang Eropa. Dalam segala aspek, mereka dibiarkan hidup sebagai pribumi. Kadang-kadang mereka pergi ke pasar untuk membeli buah atau makanan lokal, sehingga mereka tetap mempertahankan kontak dengan masyarakat mereka'," demikian salah satu kutipan surat Van Lith.

Cinta Tanah Jawa
Kutipan surat lainnya menunjukkan betapa cinta Van Lith kepada Tanah Jawa.

"Aku sudah mulai mencintai orang-orang Jawa dan bersedia untuk memulai lagi, dengan salah satu cara, karya di antara mereka dan bagi mereka," demikian penggalan surat itu.

Uskup Puja menyebut Romo Van Lith sebagai tukang taman yang menabur benih kebenaran, keadilan, dan kebaikan, melalui pendidikan untuk pribumi agar menjadi cerdas, penuh kasih sayang, berjiwa merdeka, dan terampil berkarya.

Pemikiran dan karyanya, katanya, memiliki kekuatan visioner untuk Indonesia.

"Bila Indonesia sekarang mencintai anak. Indonesia akan memiliki masa depan," katanya.

Peringatan 150 Tahun Van Lith mendasarkan kepada tanggal kelahirannya, sedangkan Komunitas Lima Gunung turut menyumbang kemeriahan peringatan tersebut.

Mereka dengan berbagai pakaian kesenian tradisional memulai pergelaran bertajuk "Pancadriya Kuwalik" (panca indera terbalik) itu dengan prosesi dari Makam Van Lith di Kerkof Muntilan menuju halaman Museum Misi Muntilan, berjarak sekitar 200 meter.

Satu foto wajah Romo Van Lith dan sembilan foto lainnya dengan pigura besar tentang para murid sekolah Muntilan pada zaman lampau, juga mereka usung dalam prosesi itu, sedangkan Romo Banar turut dalam arak-arakan itu dengan diusung menggunakan tandu oleh empat seniman petani Komunitas Lima Gunung.

"'Kukusing dupa kumelun, angeningken cipta tyas sang apekik. Kawengku sagung jajahan'," demikian kalimat doa dalam bahasa Jawa diucapkan seorang pemuka Sanggar Andong Jiwani Gunung Andong, Dian Sutopo, sambil membawa kendil berisi kemenyan, ketika hendak memulai prosesi itu, yang artinya, "Kemenyan membara, mengheningkan cipta dengan sungguh-sungguh. Semua pancaindera tertuju pada Yang Kuasa".

Prosesi secara semarak itu diiringi dengan tiupan puluhan peluit bambu oleh mereka, melewati gedung bergaya Eropa sebagai Pastoran Muntilan. Uskup Puja dengan jubah imamatnya berdiri di tangga teratas teras pastoran itu, untuk mendapatkan penghormatan secara kultural Jawa dari para seniman Komunitas Lima Gunung.

Sekitar 19 pementasan kesenian bernuansa kerakyatan yang umumnya keluar dari pakem sebagai simbol "Pancadriya Kuwalik", disuguhkan di halaman Museum Misi.

Pementasan itu, antara lain pembacaan puisi "Gladiator Gunung" (Dorothea Rosa Herliany) oleh penyair Wicahyanti Rejeki dan "Lahar Lima Gunung" oleh Atika, kemasan performa beberapa ritual gunung, seperti "Nyadran Kali", "Sungkem Tlompak", "Aum Tandur", dan "Suran", serta tembang "Sunwiwiti" dan "Muslimino"

Selain itu, tarian "Bedoyo Kuwalik", "Geculan Bocah", jatilan "Bronto Lungit", "Campur Kuwalik", "Kukilo Gunung", "Gupolo Gunung", "Topeng Saujana", "Buto Ijo", "Buto Edan", "Topeng Ireng Sekendi", "Lengger Gunung", "Jungkir Walik", dan "Soreng Truntung".

Patung Van Lith yang diinstalasi dengan tatanan "kereneng" (keranjang dari anyaman bambu) di tengah kolam penuh dengan enceng gondok, seakan menyaksikan pergelaran selama sekitar 2,5 jam tersebut.

Manajer Pergelaran Komunitas Lima Gunung "Pancadriya Kuwalik" Riyadi mengatakan bahwa pementasan performa itu sebagai ungkapan secara simbolis atas berbagai kondisi memprihatikan kehidupan masyarakat dan bangsa saat ini.

"Keadaan hidup masyarakat memang sedang terbalik, seperti dicontohkan melalui tarian soreng yang pemainnya mengenakan jas, cakil yang menari dengan gerakan halus, tarian Topeng Ireng namun berkostum Soreng. Ada juga puisi tentang gladiator untuk kami orang gunung, sehingga menjadi gladiator yang menaklukan alam untuk hidup berdamai dengan alam," kata Riyadi yang juga pemimpin Sanggar Warga Budaya Gejayan di Gunung Merbabu itu.

Romo Banar yang juga budayawan Yogyakarta itu juga menilai bahwa pergelaran tersebut sebagai ungkapan masyarakat pedesaan dan gunung atas keprihatinan terhadap berbagai aspek kehidupan baik skala lokal maupun nasional.

"Zaman sekarang serba timpang. Sekolah telah menjauhkan pengalaman hidup yang digumuli di rumah. Pendidikan seakan hanya menciptakan tukang, padahal misi pendidikan adalah kemanusiaan secara menyeluruh. Rumah didominasi oleh televisi dengan program yang entah, meski dikomentari secara bagaimana," katanya.

Pergelaran "Pancadriya Kuwalik", katanya, suatu rumusan yang berangkat dari pengalaman hidup akhir-akhir ini yang mereka rasakan, olah, dan ekspresikan.

Melalui pergelaran "Pancadriya Kuwalik", mungkin orang-orang Lima Gunung itu sedang memainkan peran sebagai simbol-simbol "Van Lith-Van Lith" dalam kala ini.

"'Pancadriya Kuwalik' dengan gaya dan caranya mengingatkan, menertawakan, 'sok mbodoni' (pura-pura bodoh, red.), karena memang berasal dari gunung," kata Romo Banar.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca
tri siwi ibar santoso
sebuah karya yang luar biasa..... kepada siapa untuk mendapatkan cdnya, tolong kasih informasi.

Selasa, 28 Mei 2013 22:21:03 WIB
Maria Poppy
Semoga ajaran van Lith semakin berakar dan berkembang dan melahirkan van Lith_ van Lith lainnya yang berani bicara dan berbuat untuk Indonesia tercinta ini.

Selasa, 28 Mei 2013 11:30:46 WIB

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar