Sejumlah anak melakukan dolanan tradisional saat peluncuran Kampoeng Dolanan Nusantara (KDN) Dusun Sodongan, Desa Bumiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Senin (17/6). (Hari Atmoko/dokumen).

Berita Terkait
Borobudur, Antara Jateng - Seakan tak sabar menunggu pejabat Pemerintah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyelesaikan pidato peluncuran Kampoeng Dolanan Nusantara di Dusun Sodongan, Desa Bumiharjo, mereka yang hadir, termasuk anak-anak setempat, memainkan othok-othok.



Suasana di halaman rumah dengan berbagai pepohonan rindang dan sarana permainan tradisional anak itu pun makin riuh rendah karena bunyi-bunyian khas othok-othok, satu jenis dolanan tradisional terbuat dari rangkaian potongan bambu.

Kepala Seksi Kesenian dan Nilai Tradisi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang Sidhi Widhiasih yang meluncurkan KDN Sodongan itu agaknya tanggap atas respons audiens sehingga mengakhiri pidatonya.

"Dengan ini Kampoeng Dolanan Nusantara Sodongan, kami luncurkan," katanya.

Peluncuran pada hari Senin (17/6) itu juga ditandai penyematan "mahkota" terbuat dari anyaman daun nangka dengan pakis oleh penggagas KDN Endi Aras kepada "Lurah" KDN Sodongan Abbet Nugroho, dan pemotongan tumpeng oleh pesohor Reni Jayusman dengan didampingi Sidhi Widhiasih.

Sepuluh anak putri dusun setempat dan tujuh putra, yang masing-masing mengenakan pakaian bermodel Jawa, antara lain, memainkan tarian dolanan anak, memainkan egrang, gasing, dan lompat tali di halaman galeri KDN Sodongan. Sejumlah anak juga tampak bermain sudamanda atau engklek di arena yang lain.

Sekelompok remaja dengan grupnya "Musik Laskar KDN Sodongan" memainkan irama musik kontemporer dengan lagu-lagu dolanan anak, seperti Cublak Cublak Suweng, Gundul Gundul Pacul, dan Padang Mbulan.

Tampak hadir pada kesempatan itu, antara lain, Kepala Unit PT Taman Wisata Candi Borobudur Bambang Irianto, Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia Umar Chusaeni, pemilik Rumah Seni Rupa Tuksongo Visual Arts House Borobudur Deddy Paw, dan pengelola Pondok Tingal Borobudur Ninik.

Kampoeng Dolanan Nusantara Sodongan di Desa Bumiharjo, Kecamatan Borobudur, menggunakan halaman rumah milik Abbet yang juga pegiat kebudayaan dan kesenian kawasan Candi Borobudur seluas sekitar 1 hektare.

Tempat itu, antara lain, berupa wahana bermain, galeri permainan tradisional, warung cendera mata, apotek hidup, dan beragam alat permainan tradisional serta rumah makan dengan menu makanan tradisional.

Tempat yang diharapkan menjadi destinasi "wisata edutainment" itu berjarak sekitar 2 kilometer utara Candi Borobudur. Pengelola KDN Sodongan berjumlah 15 orang, sedangkan anak-anak dusun setempat yang setiap hari menggunakan tempat itu untuk bermain sekitar 30 anak.

Abbet menyebut berbagai permainan tradisional yang disediakan di KDN Sodongan, antara lain, othok-othok, gasing, egrang batok, lompat tali, erek-erek, perahu othok, bakiak, sudamanda, patok lele, gobak sodor, dan benthik.

"Setiap sore, setelah pulang sekolah, anak-anak di sini bermain di tempat ini," katanya.

Ia mengemukakan pentingnya penyediaan sarana anak-anak memainkan berbagai dolanan tradisional karena bermanfaat untuk menanamkan pendidikan karakter, seperti menyangkut kreativitas dan sportivitas.

Zaman dahulu, katanya, permainan anak dibuat sendiri oleh anak-anak dengan menggunakan berbagai bahan di sekitar tempat tinggalnya dan mengambil dari bahan alam setempat sehingga mereka tidak perlu membelinya.

"Akan tetapi, sekarang banyak permainan yang digunakan dari pembelian. Kalau membuat mainan sendiri berarti mendidik anak untuk kreatif, mengolah rasa. Dolanan anak juga menjadi sarana untuk mengembangkan jiwa sosial anak, kejujuran, dan semangat gotong royong. Beda dengan 'play station' atau 'game computer' yang cenderung anak menjadi individualistik," katanya.

Ia mengemukakan komitmen pengelola KDN Sodongan untuk mendorong anak-anak setempat kreatif membuat dolanannya dengan memanfaatkan berbagai bahan alam atau barang lainnya di sekitar tempat tinggal mereka.

"Ini bagian dari upaya mengembalikan identitas bangsa, membentengi anak-anak dengan apa yang kita punya, kebudayaan sendiri, nilai-nilai luhur dan budi pekerti bangsa Indonesia," katanya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang hingga saat ini mencatat 300 macam dolanan tradisional. Pendataan juga menyangkut teknik pembuataan setiap dolanan tersebut yang tersebar di berbagai desa di 21 kecamatan di Kabupaten Magelang. Hingga saat ini, sekitar 90 dolanan tradisional yang belum terdata oleh instansi tersebut.

Sidhi mengajak pengelola KDN Sodongan untuk bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang menggali dan mengembangkan dolanan tradisional. Setiap tahun, pihaknya menggelar Festival Dolanan Tradisional.

"Dolanan anak untuk mengekspresikan diri anak, memupuk perkembangan anak agar sesuai dengan kepribadian bangsa, dan mengembalikan kecintaan anak terhadap budaya adiluhung bangsa," katanya.

Penggagas KDN Endi Aras menyatakan bahwa KDN rencananya juga segera dibuka di Taman Wisata Candi Prambanan Yogyakarta, Rest Area Urug Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Ia mengemukakan gagasan tentang pembukaan KDN yang antara lain karena prihatin atas maraknya permainan modern yang hanya bisa dinikmati satu anak, seperti "play station" dan "game computer". Berbagai permainan modern itu mengakibatkan anak asyik dengan dirinya sendiri, soliter, dan kurang peduli terhadap kondisi lingkungannya.

Ia mengakui bahwa sisi positif permainan modern yang antara lain anak cepat menguasai teknologi dan kosa kata bahasa Inggris karena permainan itu menggunakan teknologi canggih dan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Akan tetapi, kata dia, perlu beragam dolanan tradisional diperkenalkan kembali kepada anak-anak karena berasal dari budaya bangsa sendiri yang juga sama-sama menarik jika dibandingkan dengan permainan modern.

Ia mengemukakan dampak positif kepada perkembangan kepribadian anak atas dolanan tradisional juga tak kalah dengan permainan modern, antara lain pembuatannya merangsang mereka menjadi cerdas karena butuh keterampilan dan kreativitas, mengembangkan hubungan antarmanusia sejak usia dini atau kecerdasan sosial.

"Hampir semua dolanan tradisional dimainkan bersama-sama dengan orang lain," katanya.

Dolanan tradisional juga mengandung nilai kebersamaan, kejujuran, sportivitas, dan teguh terhadap aturan, melatih kemampuan motorik halus anak, seperti meraba, memegang, dan merangkai, serta motorik kasar, seperti berlari, berguling, membanting, dan mengangkat.

"Dengan demikian, anak menjadi sehat dan jauh dari obesitas," katanya.

Kalau anak-anak kembali merengkuh dolanan tradisionalnya, optimisme terhadap pembentukan karakter budaya bangsa niscaya makin menguat.


Editor : M Hari Atmoko


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar