Dari tahun ke tahun, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, ritual di sepanjang jalur pantura Jawa nyaris sama. Ribuan buruh berjibaku memperbaiki jalan agar saat puncak arus mudik, permukaan jalan terasa lebih mulus.



Jalur pantura memang menanggung beban berat. Ratusan ribu kendaraan bermotor, termasuk kendaraan berat seperti truk trailer dan kontainer, setiap hari melintas di jalur yang menghubungan dua kota terbesar di Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya. Pemandangan di jalur Alas Roban hingga Subah, Kabupaten Batang, menunjukkan banyak permukaan jalan yang bergelombang dan "keriting". Kondisi jalan ini jelas tidak nyaman dan aman.

Dengan beban jalan pantura yang demikian superberat, sebenarnya pemerintah paham bahwa jalan sepanjang 1.300 kilometer itu lebih dari sekadar membutuhkan perawatan rutin. Jalur ramai dan padat kendaraan berat ini butuh konstruksi yang lebih kebal terhadap tekanan berat dan cuaca ekstrem. Jembatan timbang yang difunsgikan untuk mengendalikan muatan selama ini tidak efektif. Penerimaan retribusi dari kelebihan muatan tak sebanding dengan kerusakaan parah yang diderita jalur pantura.

Penerapan konstruksi jalan beton bertulang di sejumlah ruas yang permukaan tanahnya labil, dinilai tepat meskipun butuh biaya sangat besar.

Masyarakat yang ingin menikmati perjalanan darat sudah sangat bosan mengalami kemacetan pada masa arus mudik dan balik setiap Lebaran. Kemacetan parah ini bukan hanya disebabkan oleh membeludaknya jumlah kendaraan bermotor. Sejumlah faktor bertali-temali, seperti pasar tumpah, jalan rusak, hingga perilaku semberono pengemudi.

Jakarta-Semarang, misalnya, yang dalam kondisi normal biasa ditempuh 7-8 jam, pada masa arus mudik bisa melar menjadi 15 jam. Padahal, pada masa arus mudik-balik H-4 hingga H+1, semua truk, kecuali pengangkut sembako dan barang strategis, dilarang melintas di jalan raya.

Rakyat menginginkan jalan berkualitas yang layak dan aman itu tersedia sepanjang masa. Namun, perbaikan besar-besaran selalu saja baru dikebut menjelang arus mudik dan balik Lebaran.

Mengelola tradisi mudik di negeri ini memang berat. Tahun ini diperkirakan pemudik sekitar 20 juta orang, 9,7 juta orang di antaranya "start" dari DKI Jakarta menuju ke "udik". Dari jumlah tersebut, 7,2 juta orang bakal mudik menggunakan kendaraan pribadi, 5,8 juta orang menggunakan mobil dan 1,4 juta orang mengendarai sepeda motor. Sungguh jumlah yang sangat besar ketika mereka dalam waktu hampir bersamaan mengular di jalan-jalan dengan cita-cita yang sama: cepat sampai di kampung halaman dengan selamat.

Melihat perbaikan jalan yang belum sepenuhnya tuntas di jalur pantura, perjalanan mudik Lebaran tahun ini mungkin tidak lebih baik dariu tahun-tahun lalu. Bahkan, bisa jadi butuh perjuangan lebih besar karena hujan deras masih terus mengguyur Jawa.

Meskipun selalu diwarnai kemacetan arus lalu lintas parah di sana sini, mudik tetap menjadi ritual yang mengasyikkan bagi jutaan warga Indonesia. ***


Editor : Achmad Zaenal M


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar