Semarang, Antara Jateng - Sastrawan Ali Syamsudin Arsi menilai proses pendidikan di sekolah, terutama pembelajaran sastra, harus memberdayakan sastrawan-sastrawan lokal melalui karya-karyanya.



"Sastra sebenarnya berkaitan erat dengan dunia pendidikan karena menuntut pembacaan teks-teks karya para sastrawan dalam buku pelajaran," kata penyair yang akrab disapa Asa itu di Semarang, Sabtu.

Hal tersebut diungkapkan penyair asal Barabai, Kalimantan Selatan, itu usai menjadi pembicara dalam lokakarya (workshop) "Apresiasi Sastra" di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 20 Semarang.

Menurut dia, pembelajaran sastra di sekolah selama ini banyak mengambil karya-karya sastrawan yang sudah terkenal, tetapi sepatutnya karya-karya para sastrawan lokal juga ikut diberi tempat.

"Di setiap daerah kan ada para sastrawan yang menghasilkan karya yang sesuai dengan konteks lokal budaya setempat. Para sastrawan lokal ini, seperti puisi, prosa, dan cerita pendek bisa dipakai," katanya.

Ia mengakui bahwa buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dipergunakan sekolah dalam pembelajaran sastra memang sudah diatur dari pusat, tetapi sekolah bisa mencari cara untuk memberdayakan karya sastra lokal.

"Sebagai contoh, panggil untuk berbicara dan mengajarkan sastra kepada siswa-siswa di sekolah. Guru bisa pula memakai karya-karya sastra lokal untuk diajarkan. Saya rasa banyak sekali sastrawan," katanya.

Pemberdayaan sastrawan lokal lewat pengenalan karya-karya itu, kata dia, bisa mengangkat dan mengembangkan potensi kesusasteraan yang ada di masing-masing kota, serta konteksnya sering lebih pas.

"Semestinya begitu. Jangan hanya mengajarkan karya-karya sastra yang sudah terkenal atau terjemahan-terjemahan dari karya asing. Sastrawan lokal harus diangkat karyanya agar berkembang," kata Asa.

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop Apresiasi Sastra Rini Ganefa menjelaskan bahwa kegiatan itu bersifat rutin yang digelar sekolah setiap tahun untuk menumbuhkan minat sastra di kalangan siswa.

"Tahun lalu kami panggil sastrawan lokal. Kebetulan, Bang Asa sedang ada kegiatan sastra di Semarang sehingga kami undang untuk mengisi 'workshop'," kata guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 20 Semarang itu.

Rini yang juga dikenal sebagai sastrawan itu mengatakan bahwa peserta kegiatan sastra itu berjumlah sekitar 52 orang, terdiri atas perwakilan siswa kelas VII, VIII, dan IX di sekolah tersebut.

"Diakui atau tidak, pembelajaran sastra di kelas terus-menerus akan membuat siswa jenuh. Sebab, guru memang dituntut mengajar sesuai dengan buku. Dengan kegiatan semacam ini, siswa lebih 'enjoy'," katanya.

Editor : Nur Istibsaroh


Komentar Pembaca

Kirim Komentar
- Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari pengelola
- Semua komentar menjadi tanggung jawab pengirim
Nama  
Email  
Komentar
 

Masukkan karakter yang terdapat pada gambar