ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Kamis, 19 Oktober 2017

Musim Kemarau di Jateng Mundur

| 5699 Views
id musim kemarau di jateng mundur
ilustrasi cuaca




"Sebagian besar wilayah di Jateng musim kemaraunya mundur, seperti di Kota Semarang yang normalnya musim kemarau bulan Mei diprakirakan menjadi Juni," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jateng Evi Luthfiati di Semarang, Senin.



Selain Kota Semarang, daerah Jawa Tengah bagian tengah, seperti Pemalang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, dan Banjarnegara yang normalnya musim kemarau akhir Juni, pada tahun ini diprakirakan mundur menjadi bulan Juli.



"Rata-rata musim kemarau tahun ini mundurnya 10 hingga 20 dasarian," katanya menjelaskan.



Untuk daerah Jateng bagian timur, seperti Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora, diprakirakan tetap normal, yakni pada akhir bulan April sudah memasuki musim kemarau.



Menurut Evi saat ini fenomena La Nina masih ada dengan intensitas lemah dan suhu permukaan laut perairan Indonesia masih hangat.



"Bulan Mei masih ada hujan sehingga untuk petani yang menanam padi harus mewaspadai mundurnya musim kemarau ini," katanya.



Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Ayu Entys menambahkan bahwa dirinya telah mendapatkan surat edaran dari BMKG mengenai mundurnya musim kemarau tersebut.



"Saya sudah meminta kepada petani jika memang tidak ada air jangan dipaksakan menanam padi, kecuali kalau memang ingin menanam padi gogo," kata Ayu Entys.



Di Kota Semarang luasan sawah irigasi teknis ada 832 hektare dan yang nonteknis seluas 1.072 hektare.



"Jadi, memang banyak lahan pertanian yang tergantung dengan musim. Oleh karena itu, jika sudah diprakirakan tidak ada hujan, sebaiknya petani mengikuti mundurnya musim kemarau," katanya.



Ayu menambahkan mundurnya musim kemarau tidak memberikan pengaruh pada tanaman buah karena biasanya musim buah terjadi pada bulan Oktober, November, Desember, dan Januari.



"Kalau saat ini mereka petani buah tengah melakukan perawatan tanaman agar pada saat pembuahan hasilnya bagus," demikian Ayu Entys.

Editor: hernawan

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca