ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Kamis, 23 Februari 2017

Limbah PG Pakis Baru Diprotes Warga

| 6808 Views
id limbah pg pakis baru diprotes warga
Limbah PG Pakis Baru Diprotes Warga
Ilustrasi (antarafoto.com)
Salah seorang warga Pakis, Gito Mukti, di Pati, Senin, mengungkapkan, protes warga dilakukan dengan cara mengadukan permasalahan tersebut kepada DPRD Pati hari ini.

Puluhan warga yang merupakan perwakilan dari tiga desa tersebut, katanya, ikut serta mengadukan persoalan limbah Pabrik Gula Pakis Baru tersebut, karena hingga sekarang belum ada penanganan secara serius.

"Kami juga menandatangani petisi agar polusi udara, limbah cair maupun padat yang dihasilan PG Pakis Baru tersebut ditangani secepatnya," ujarnya.

Polusi yang ditimbulkan oleh pabrik gula tersebut ketika musim giling, katanya, cukup merugikan warga sekitar.

Solikul Wahab, warga Desa Pakis mengakui, setiap memasuki musim giling, selalu terganggu dengan limbah yang ditimbulkan oleh pabrik tersebut.

Bahkan, lanjut dia, sumur miliknya tidak bisa dimanfaatkan saat pabrik tersebut mulai giling, karena jarak kediamannya dengan pabrik tersebut hanya 400-an meter.

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, dia terpaksa membeli, karena PG Pakis Baru juga tidak mempedulikan keluhan warga tersebut.

Selain itu, dia mengakui, polusi udara juga cukup mengganggu, karena hingga kini tidak ditangani dengan baik.

Perwakilan dari PG Pakis Baru Sugiyanto mengungkapkan, PG Pakis Baru sedang memperbaiki sistem pengolahan limbah secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan ketentuan.

"Mudah-mudahan, warga mau menerima itikad baik perusahaan," ujarnya.

PG Pakis Baru, katanya, sudah memberikan bantuan air bersih, terutama untuk warga di Desa Kedungsari dan Pakis lewat bantuan pembuatan satu unit sumur.

Rencananya, kata dia, jumlah sumur bantuan tersebut akan ditambah sesuai kebutuhan.

Terkait dengan tuntutan agar warga sekitar yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), katanya, akan direkrut kembali sesuai dengan kebutuhan dan memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan.

Editor: Zuhdiar Laeis

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca