ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Rabu, 26 Juli 2017

Pemblokiran Medsos dinilai Tepat Cegah Radikalisme

| 319 Views
id pemblkiran medsos dinilai tepat cegah radikalisme
Pemblokiran Medsos dinilai Tepat Cegah Radikalisme
Dokumentasi Deklarasi Anti Radikalisme. Sebanyak 44 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Barat mengadakan deklarasi antiradikalisme yang diselenggarakan di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Jumat (14/7/2017). Deklarasi anti radikalisme perguruan tinggi se-Jabar tersebut berisi beberapa poin yakni berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945 dan semangat Bhineka Tunggal Ika, sekaligus menolak organisasi dan aktifitas yang berorientasi pada radikalisme. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)
Lebak, ANTARA JATENG - Tokoh masyarakat Kabupaten Lebak Roji Santani mengatakan pemblokiran aplikasi media sosial dinilai tepat guna mencegah paham radikalisme, juga penyebaran berita tidak benar alias bohong (hoax).

"Kami mendukung pemerintah untuk mengambil tindakan tegas dengan pemblokiran media sosial (medsos) yang berkonten radikalisme dan terorisme," kata Roji Santani di Lebak, Senin.

Selama ini, medsos dari sejumlah aplikasi antara lain Telegram, Twitter, Facebook dan Istagram menyebarkan konten berita hoax maupun radikalisme.

Bahkan, beberapa pelaku terorisme melakukan aksi bunuh diri juga penyerangan terhadap anggota kepolisian setelah menerima informasi sesat dari medsos itu.

Mereka para terorisme atau yang tergabung ISIS untuk mempengaruhi simpatik dengan mengajak jihad melalui sarana konten medsos.

Menurut dia, apabila, konten medsos berbau radikalisme maupun hoax tidak segera dilakukan tindakan tegas dikhawatirkan akan mempengaruhi generasi muda.

Karena itu, pihaknya mendukung langkah pemerintah yang akan melakukan pemblokiran aplikasi media sosial.

"Jika perlu pemblokiran medsos itu dilakukan secepatnya," katanya.

Menurut dia, saat ini orangtua juga sangat khawatir maraknya konten medsos yang menyebarluas ajakan radikalisme dan terorisme.

Penyebaran paham sesat itu tentu dikhawatirkan anak-anak menjadi korban untuk melakukan tindakan radikalisme.

Sebab, saat ini, masyarakat begitu bebas membuat status komentar melalui Facebook tidak ada pengawasan.

Mereka mengomentari apa saja mulai berita propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian juga ajakan atau cara merakit bom sampai cara melakukan penyerangan.

"Kami setuju dan mendukung pemerintah melakukan pemblokiran guna cinta tanah air," katanya.

Editor: Totok Marwoto

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca