ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Kamis, 25 Mei 2017

Permintaan Kedelai Impor di Kudus Turun

| 1364 Views
id kedelai impor, pengrajin tempe tahu
Permintaan Kedelai Impor di Kudus Turun
Kedelai impor. (ANTARA FOTO/ Saiful Bahri)
Kudus, ANTARA JATENG - Permintaan kedelai impor yang biasanya digunakan untuk membuat tahu dan tempe pekan ini mengalami penurunan hingga 28,57 persen dibanding permintaan pekan sebelumnya, kata Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma`ruf.

"Permintaan sebelumnya dalam sehari bisa mencapai 21 ton, sedangkan saat ini menurun menjadi 15 ton per harinya atau turun 28,57 persen," ujarnya di Kudus, Jumat.

Informasi dari para pengrajin tahu maupun tempe, mengatakan permintaan di pasaran sedang lesu, sehingga tingkat produksinya juga disesuaikan.

Ia mencontohkan, jika sebelumnya pengrajin tahu/tempe membeli kedelai hingga 5 kuintal, saat ini turun menjadi 4 kuintal.

Apabila permintaan kembali normal, dia optimistis, penjualan kedelai akan meningkat seperti sebelumnya, rata-rata per hari mencapai 21 ton.

Untuk stok kedelai impor, lanjut Ma`ruf, tersedia dalam jumlah cukup karena di gudang terdapat 75 ton kedelai impor.

"Jika pengrajin tahu dan tempe tidak berminat kedelai impor, saat ini juga ada kedelai lokal," ujarnya.

Pasokan kedelai lokal mulai mengalir sejak sepekan terakhir yang berasal dari wilayah Jawa Timur.

Hanya saja, kata dia, harga jualnya hampir sama dengan kedelai impor, yakni Rp6.500 per kilogram, sedangkan kedelai impor dijual Rp6.550/kg.

Ia menduga, mahalnya harga jual kedelai lokal karena stoknya masih terbatas, mengingat belum semua daerah penghasil mulai panen.

Daerah yang selama ini menjadi langganan pemasok kedelai lokal, di antaranya dari Jember, Bali, Grobogan, Pasuruan, dan Purworejo.

Untuk kualitas kedelai lokal, katanya, memang lebih unggul, dibandingkan dengan kedelai impor.

"Akan tetapi, kualitas kedelai lokal tidak bisa stabil seperti halnya kedelai impor," ujarnya.

Akibatnya, pengrajin tahu maupun tempe lebih berminat membeli kedelai impor, meskipun harga jualnya berfluktuasi.

Ia mengatakan stok kedelai lokal masih sedikit karena di gudang hanya tersedia 13 ton.

Adapun jumlah pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus diperkirakan mencapai 300-an pengusaha yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Editor: Mahmudah

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca