ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Sabtu, 21 Oktober 2017

Petambak Ujung Alang Merugi Akibat Cuaca Buruk

| 345 Views
id petambak,ujungalang,cilacap
Petambak Ujung Alang Merugi Akibat Cuaca Buruk
Sejumlah petambak di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, sedang memantau kondisi tambak ikan bandeng pascakebanjiran. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)
Cilacap, ANTARA JATENG - Petambak udang windu dan ikan bandeng di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, merugi akibat cuaca buruk sehingga rob yang sering melanda kawasan laguna Segara Anakan itu semakin tinggi.

"Kemarin saya menebar bibit bandeng sebanyak 7.000 ekor tapi hasil panennya sangat sedikit sehingga tidak bisa untuk membeli benih udang windu," kata salah seorang petambak, Carsem (65), di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Minggu.

Ia mengatakan bibit bandeng 7.000 ekor itu dibeli dengan harga Rp800.000 namun setelah dibudidayakan selama empat bulan hanya bisa dipanen 1,3 kuintal atau setara Rp1,3 juta.

Dia mengatakan hal itu terjadi karena ikan bandeng yang dibudidayakan banyak yang hilang saat terjadi rob.

Ia mengaku jarang menghasilkan bandeng secara optimal karena sering terjadi rob dan hasil tertinggi yang pernah diperoleh hanya 2 kuintal.

"Sekarang kami mengalami paceklik. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, saya hanya mengandalkan udang krosok," kata Carsem yang menggarap 6 hektare tambak tanah timbul yang muncul akibat sedimentasi di kawasan laguna Segara Anakan.

Ia mengaku bisa memperoleh udang krosok 1-2 kilogram per hari dengan harga jual Rp17.000 per kilogram.

"Sudah satu tahun ini, saya tidak membudidayakan udang windu karena benihnya enggak bisa beli. Harga benih udang windu sebesar Rp350 ribu isi 10.000 ekor," kata dia yang berasal dari Karawang, Jawa Barat.

Oleh karena hasil panen bandengnya tidak optimall, Carsem mengaku banyak utang untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya, Tanu (70), yang stroke.

Petambak lainnya, Surono (65), mengaku menggarap tambak seluas 17 hektare yang ditebari benih udang windu 1 juta ekor dan bandeng 100.000 ekor

"Harga benih udang windu sebesar Rp25 per ekor yang dibeli dari Batu Hiu, Jawa Barat, sedangkan harga benih bandeng Rp13 per ekor dan pakannya habis 40 ton tapi akhirnya gagal panen akibat terkena banjir rob," kata Surono yang juga Kepala Dusun Bondan.

Ia mengatakan Dusun Bondan dihuni 130 keluarga yang terdiri atas 747 jiwa.

"Mayoritas penduduk Dusun Bondan bekerja sebagai petambak," katanya.

Kepala Desa Ujungalang Jarwo mengakui mayoritas warga Dusun Bondan hidup dalam kemiskinan karena hanya mengandalkan hasil dari tambak yang tidak menentu.

"Sebagian besar dari mereka merupakan pendatang. Dulu ada 200 keluarga termasuk keluarganya Bu Carsem yang dari Karawang yang datang sekitar tahun 1997," katanya.

Ia mengatakan para pendatang itu tertarik untuk mengikuti jejak sejumlah orang yang sukses mengelola tambak bandeng dan udang windu pada tanah-tanah timbul di Segara Anakan.

Akan tetapi, kata dia, kesuksesan itu ternyata tidak bisa diikuti oleh para pendatang lainnya sehingga mereka sempat mengalami kelaparan karena gagal panen.

"Beruntung, Pemerintah Kabupaten Cilacap saat itu langsung turun tangan sehingga kelaparannya tidak berkepanjangan," katanya.

Editor: Antarajateng

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca