ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Minggu, 24 September 2017

Potong Gombak Terus Berulang

| 3395 Views
id potong gombak
Potong Gombak Terus Berulang
Sesepuh warga, Mulyono (kanan), memotong rambut gombak seorang anak dalam tradisi yang diselenggarakan di Pendopo Padepokan Wargo Budoyo Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, di kawasan Gunung Merbabu, Kamis (20/4) sore. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)
Magelang, ANTARA JATENG - Berulang-ulang seekor ayam jago di kurungannya berkokok meskipun saat itu sore dengan udara makin sejuk, merayapi kawasan Gunung Merbabu di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sesekali dia keluruk ketika sesepuh warga setempat, Mulyono (65), mendaraskan narasi tentang anak bajang berdialog dengan bapak bajang. Puluhan warga menggenggam hening ketika sang dukun "ngeleang" (melayang) itu menyampaikan narasinya.

Kokokan si ayam seakan menggiring dan menghayutkan semua yang hadir untuk menyimak narasi dalam tradisi potong rambut gombak (gembel) di Pendopo Wargo Budoyo Gejayan, Kecamatan Pakis, kawasan barat Gunung Merbabu, Kamis (20/4) sore.

Mereka yang berkumpul di pendopo milik komunitas seniman petani setempat pimpinan Riyadi (43) itu, terutama keluarga besar Eko Prayitno (24)-Nurul Arfani (24). Anak putri mereka, Dewi Rahayu (4), menjalani tradisi potong gombak.

Ayam jantan itu salah satu di antara ratusan sesaji yang diletakkan di tengah pendopo. Dia diletakkan di kurungan persis di belakang Mulyono bersila di atas tikar mendong, selama memimpin tradisi tersebut.

Di samping Mulyono, warga setempat meletakkan tangga bambu setinggi 1,5 meter dengan balutan dua batang tebu masih berdaun hijau sebagai sarana prosesi "Ondo Langit" dalam rangkaian tradisi potong gombak di dusun setempat.

Ketua DPRD Kabupaten Magelang Sariyan Adi Yanto, budayawan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sutanto Mendut, dan sejumlah pegiat utama komunitas seniman petani di kawasan lima gunung itu tampak hadir. Riyadi, pemimpin padepokan, adalah salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh).

Tradisi potong gombak dimulai dengan prosesi berjalan kaki, mengarak si anak dari rumahnya menuju pendopo padepokan sekitar 300 meter. Mereka melewati jalan makadam di depan rumah kepala dusun setempat yang sedang digelar pementasan wayang kulit sehari semalam dalam rangka perti desa.

Dalam prosesi itu, puluhan warga membawa berbagai sesaji, seperti macam-macam nasi, termasuk tujuh tumpeng, lauk-pauk, aneka jenang, jajanan pasar, sayuran, buah-buahan, berbagai minuman, ketupat, ingkung, kepala kambing, kain mori, kaca pengilon, palawija, jadah bakar, "tukon pasar", dan kelapa. Berbagai sesaji itu diusung warga menggunakan puluhan tampah, baki, dan tambir.

Dewi Rayahu dalam prosesi tersebut digendong dengan selendang batik oleh neneknya, Sumirah (48). Kakeknya, Suwandi (49) dan kedua orang tuanya turut mendampingi dengan berjalan di dekat sang dukun.

Sampai di pendopo padepokan, semua warga duduk bersila di atas tikar dan karpet. Perhatian tertuju kepada Mulyono yang memimpin upacara tradisi, antara lain, dengan menyebut doa untuk arwah warga setempat, leluhur keluarga, dan pepunden dusun.

Dikatakan pula dalam bahasa Jawa oleh sang dukun tentang maksud upacara yang untuk memotong rambut Dewi Rahayu yang telah menjadi gombak sejak berumur satu tahun.

Pemotongan rambut gombak dikatakan sebagai upaya secara tradisi untuk menyingkirkan segala kesulitan hidup si anak, yang dalam budaya Jawa disebut sebagai "sukerta". Pelaksanaan tradisi juga berdasarkan penghitungan kalender yang dianggap sebagai "hari baik" bagi si anak.

"Semoga terbebas dari segala bahaya dan kesialan, semoga kelak menjadi anak yang saleh, berbakti kepada Gusti Allah, menghormati orang tua, dan berguna bagi bangsa, negara, dan masyarakat, serta keluarganya," ujarnya.

Terdengar secara jelas, Mulyono bernarasi tentang dialog anak bajang dengan bapaknya. Mereka antara lain membicarakan bahwa tiba saatnya rambut gombak Dewi Rahayu dipotong. Sepertinya anak bajang tersebut selama ini menyertai si anak dan mewujud dalam rambut gombak.

Mereka berbicara pula tentang kekuatan para dewa. Setiap dewa penghuni empat penjuru mata angin, memiliki simbol-simbol kebesaran dan tanda-tanda kemuliaan, mempunyai banyak pusaka, karakter kepribadian, dan kekuasaan masing-masing.

Dalam narasi, anak bajang tidak membolehkan rambut gombak dibakar karena dia takut panas, atau dibuang di hutan karena bisa menimbulkan penyakit kulit, atau dilarung di sungai besar karena mengakibatkan penyakit kaki.

Ia menghendaki rambut gombak ditempatkan di suatu pertapaan di Gunung Semeru, tempat tinggal sosok yang disebut Mulyono sebagai Kiai dan Nyai Rogodewa serta Kiai dan Nyai Rogodalem.

Kedua sosok itu tidak lepas dari sosok yang disebut sebagai Kaladete dalam tradisi serupa di tengah masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah.

"Memang asalnya dari sana (Dieng, red.). Di sana masih ada juga tradisi ini, dan anak gombak hanya ada di gunung-gunung. Seperti di Merbabu ini. Memang ada kaitannya," kata Mulyono kepada Antara sebelum memimpin prosesi tradisi tersebut.

Dalam narasi itu pula, anak bajang juga meminta berbagai sesaji menjadi bekal perjalanannya menuju pertapaan di Gunung Semeru. Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Selama Mulyono bernarasi, Dewi Rahayu dengan anteng dalam pelukan neneknya. Namun, sesekali ia minta dipangku sang ibu. Sang dukun kemudian menggunakan gunting memotong rambut gombak Dewi Rahayu.

Dengan dibungkus kain mori, potongan gombak dilengkapi beberapa bagian sesaji, oleh sejumlah warga kemudian diletakkan di lima tempat di Dusun Gejayan, yakni sumber air Tlompak, perempatan jalan dusun, Sungai Nglegok, Sungai Umum, dan di atas genting rumah Eko.

Sebagaimana diungkapkan Riyadi, sekitar 20 tahun yang lalu hampir di setiap keluarga masih dijumpai anak gombak sehingga tradisi tersebut sering dilakukan warga.

Ada dua ciri rambut gombak, yakni gembel (besar-besar) dan "pari" (padi) atau lembut.

Hanya saat Ruwah, Pasa, dan Sura dalam kalender Jawa, berdasarkan ketentuan turun-temurun masyarakat dusun itu, tidak boleh dilakukan pemotongan gombak.

Riyadi dan Mulyono, keduanya menyebut makin jarang dijumpai anak berambut gombak di kawasan Gunung Merbabu, setelah keberhasilan program keluarga berencana dengan setiap keluarga cukup dua anak, supaya kehidupan masyarakat makin sejahtera.

Mulyono yang biasa memimpin tradisi itu secara turun-temurun, menyebut anak gombak dijumpai karena faktor keturunan, gombak "penyuwunan" (kehendak orang tua), dan gombak asal (bukan keturunan).

Warga setempat menengarai anaknya gombak asal, antara lain karena sering rewel dan badannya gampang meriang, sedangkan gombak "penyuwunan" karena nazar atau beberapa kali kasus kematian bayi saat si ibu melahirkan. Gombak keturunan dianggap membuat anak berambut gombak selalu hadir pada masa-masa mendatang.

"Sepertinya tradisi ini surut, tetapi sesungguhnya akan ada terus," ujarnya.

Mungkin saja asam deoksiribonukleat atau deoxyribonucleic acid (DNA), yakni sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi berbagai instruksi genetika setiap organisme, antara lain mewujud dalam rambut gombak.

Kalau rambut gombak tidak dipotong pada masanya, berdasarkan pengalaman dan pemahaman warga setempat, serta pandangan tradisi budaya menurut Mulyono, mengakibatkan tumbuh kembang anak terganggu kesehatan, pikiran, atau rejekinya.

"Kalau tidak dipotong, anak akan selalu `katutan sukerta` (membawa kesialan, red.)," katanya.

Pasangan Suwandi-Sumirah dan Eko Prayitno-Nurul Arfani, nampak menghela nafas lega, usai Dewi Rahayu menjalani prosesi tradisi selama dua jam itu.

"Sejak lama kami berniat, sebelum Dewi sekolah, sudah menjalani tradisi ini. Semoga sehat, kelak lancar penghidupannya, dan terbebas dari marabahaya," kata Suwandi yang juga pegiat Padepokan Warga Budoyo Gejayan itu.

Editor: Zuhdiar Laeis

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca