ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Kamis, 19 Oktober 2017

Ratusan Sopir Taksi Purwokerto Protes Angkutan Online

| 418 Views
id satpol pp,segel ruko
Ratusan Sopir Taksi Purwokerto Protes Angkutan Online
Petugas Satpol PP Kabupaten Banyumas menyegel sebuah ruko yang dijadikan sebagai kantor perwakilan "Go-Jek" dan "Go-Car" di Jalan Kombas, Purwokerto, Rabu (20/9/2017) siang, karena belum memiliki beberapa perizinan salah satunya izin gangguan (HO). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)
Purwokerto, ANTARA JATENG - Ratusan sopir taksi dari Koperasi Banyumas Taksi dan Koperasi Kondang Prima berunjuk rasa untuk memrotes keberadaan angkutan umum berbasis dari di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dalam unjuk rasa yang digelar Rabu siang, ratusan sopir taksi itu mendatangi Pendopo Si Panji, Kabupaten Banyumas, di Purwokerto guna menemui Bupati Banyumas untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Sembari menunggu perwakilan mereka menemui Bupati Banyumas, sebagian sopir taksi tampak memarkirkan armadanya di sepanjang Jalan Kabupaten dan beberapa kendaraan lainnya diparkirkan di Alun-Alun Purwokerto.

Akan tetapi upaya mereka bertemu Bupati gagal karena orang nomor satu di Banyumas itu sedang dinas luar kota.

Kendati demikian, sopir-sopir taksi itu ditemui Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas Sugeng Hardoyo serta Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Banyumas Joko Wiyono.

Dalam kesempatan tersebut, beberapa perwakilan sopir taksi secara bergantian menyampaikan keberatan mereka terhadap keberadaan angkutan berbasis daring yang berdampak pada penurunan pendapatan angkutan umum konvensional.

Mereka meminta agar Pemerintah Kabupaten Banyumas menghentikan dan menutup operasional angkutan berbasis daring.

Terkait permintaan tersebut, Kadinhub Banyumas Sugeng Hardoyo mengatakan bahwa Pemkab Banyumas tidak bisa menutup angkutan berbasis daring karena aplikasinya berlaku secara nasional.

Setelah cukup lama berdialog, sebagian sopir taksi bersama Kadinhub Banyumas dan personel Satuan Polisi Pamong Praja mendatangi sebuah ruko di Jalan Kombas, Purwokerto, yang dijadikan sebagai kantor perwakilan "Go-Jek" dan "Go-Car".

Beberapa sopir taksi tampak berjalan kaki dari Alun-Alun Purwokerto menuju kantor perwakilan angkutan berbasis daring itu.

Akan tetapi sesampainya di tempat tersebut, kondisi kantor dalam keadaan tertutup sehingga beberapa sopir taksi menggedor-gedor pintunya.

Setelah lama menunggu, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satpol PP Kabupaten Banyumas memutuskan untuk menyegel kantor tersebut sesuai dengan harapan sopir taksi.

Saat ditemui wartawan, Kadinhub Banyumas Sugeng Hardoyo mengatakan penyegelan kantor tersebut merupakan kewenangan Satpol PP karena belum memiliki beberapa perizinan salah satunya izin gangguan (HO).

"Bukan karena `online`-nya. Kami tidak bisa menutup aplikasi seperti itu karena aplikasi `online` itu secara nasional sehingga kita tidak bisa atau tidak punya kemapuan menutup aplikasi yang sifatnya nasional," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan sopir taksi keberatan dengan adanya angkutan berbasis daring dengan menggunakan pelat nomor polisi warna hitam yang beroperasi di Banyumas.

Menurut dia, sopir taksi yang merupakan angkutan umum berpelat nomor polisi warna kuning sebenarnya bersedia bergabung dengan angkutan berbasis daring khususnya "Go-Car".

Namun sampai sekarang belum ada pembicaraan apa pun dan justru ada angkutan daring berpelat hitam yang beroperasi di Purwokerto sehingga sopir taksi konvensional mengajukan keberatan.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya menerima keberatan yang disampaikan sopir taksi konvensional sehingga akan melakukan penertiban karena sebelumnya Bupati Banyumas juga tidak memperolehkan adanya angkutan pelat hitam.

Sementara untuk operasional ojek daring, lanjut dia, berdasarkan kesepakatan dengan ojek pangkalan atau konvensional, "Go-Jek" dan sejenisnya tidak boleh menggunakan seragam saat beroperasi.

Selain itu, ojek daring juga tidak boleh mengambil penumpang di zona-zona yang ditentukan.

"Kalau mengantar di zona itu boleh, tapi kalau mengambil penumpang tidak boleh," katanya.

Salah seorang sopir taksi, Soleh mengatakan aksi unjuk rasa itu digelar karena mereka mendapati dua pengemudi angkutan daring yang beroperasi di Purwokerto dalam dua hari terakhir.

"Kemarin ada satu yang tertangkap dan sudah diminta membuat surat pernyataan. Hari ini ada lagi," katanya.

Ia mengharapkan Pemkab Banyumas dapat menyelesaikan permasalahan tersebut demi terciptanya kedamaian dan ketenteraman di Banyumas.

Menurut dia, Banyumas selama ini dikenal aman, damai, dan tenteram tapi sekarang terusik oleh kehadiran angkutan daring.

"Alasan `driver online` selalu sedang berkunjung ke Banyumas dan mencoba aplikasi yang ternyata bisa berfungsi sehingga mereka cari penumpang di sini," katanya.

Editor: Wisnu Adhi Nugroho

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca