ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Senin, 23 Oktober 2017

Sambut Puasa, Dugderan 2017 Tanpa Permainan Anak-Anak

| 2621 Views
id dugderan 2017,sambut puasa,tanpa permainan anak anak
Sambut Puasa, Dugderan 2017 Tanpa Permainan Anak-Anak
Ilustrasi- Sejumlah warga antre untuk naik wahana Bianglala pada pasar malam rakyat di lapangan Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis (14/8) malam. (ANTARA FOTO/Rudi Mulya)
Semarang, ANTARA JATENG - Dugderan, tradisi menyambut bulan puasa, salah satunya dengan pasar rakyat yang digelar kembali pada tahun ini, tidak lagi dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak.

"Ya, biasanya kan ada permainan anak-anak, seperti bianglala dan komidi putar di pasar rakyat Dugderan," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto di Semarang, Jumat.

Namun, kata dia, untuk tahun ini tidak ada permainan anak-anak di Dugderan seperti dahulu karena lahan yang tersedia di dekat bangunan Pasar Johar Semarang yang bekas terbakar sangat terbatas.

Keberadaan wahana permainan anak-anak itu selama ini memang menyita tempat yang cukup luas sehingga untuk sementara ditiadakan untuk memberi kesempatan bagi para pedagang "tiban".

Pada tahun ini, kata dia, pasar rakyat Dugderan akan menempati kawasan bekas Alun-Alun Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman, red.) hingga samping Hotel Metro dan Jalan Agus Salim Semarang.

Meski tidak ada wahana permainan anak-anak, dia meyakini tidak akan memengaruhi kemeriahan Dugderan tahun ini karena para pedagang beraneka mainan anak-anak, termasuk gerabah juga tetap ada.

"Kami juga akan isi Dugderan dengan pementasan musik dangdut yang mengundang artis lokal. Kemeriahan menjelang Dugderan sekarang ini mulai tampak, seperti berdatangannya pedagang gerabah," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Umi Surotud Diniyah mengingatkan seluruh pihak terkait untuk menyinergikan tugas pokok dan fungsinya agar perayaan Dugderan tetap lestari.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan Dugderan merupakan tradisi turun-temurun dengan puncaknya pada satu hari sebelum masuk bulan puasa yang harus terus dilestarikan.

"Tentunya, kami harapkan kelestarian tradisi dugderan ini tertata dengan baik dan rapi. Harus diatur agar pedagang tertib dan teratur agar jangan sampai mengganggu pemakai jalan," katanya.


Editor: Antarajateng

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca