ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Senin, 23 Oktober 2017

Soal Temuan Poster Provokatif, Undip Minta Maaf

| 551 Views
id rektor undip, Muhammad Zainuri, poster provokatif
Soal Temuan Poster Provokatif, Undip Minta Maaf
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang Supriyadi menunjukkan poster provokatif yang ditemukan di kampus Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (17/5) (Foto: ANTARAJATENG.COM/Zuhdiar Laeis)
Semarang, ANTARA JATENG - Universitas Diponegoro Semarang menyampaikan permohonan maaf atas temuan poster yang dinilai provokatif dan melecehkan lambang negara di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

"Atas nama Undip, kami minta maaf. Undip berkomitmen untuk menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, serta menghormati pluralitas dan kebhinnekaan," kata Wakil Rektor I Undip Prof Muhammad Zainuri di Semarang, Jumat.

Kampus Undip sebelumnya dihebohkan dengan temuan poster bergambar siluet Garuda Pancasila berwarna merah yang bertuliskan "Garuda Ku Kafir" di tengahnya yang tersebar di sejumlah titik di kampus FISIP Undip.

Di dalam poster tersebut, tertulis pula "Depan Gedung A FISIP Undip 20 Mei 2017 Pukul 15.30 WIB" yang diduga merupakan jadwal agenda kegiatan itu, namun tidak ada tulisan ataupun keterangan pendukung lainnya.

Zainuri menjelaskan pelaku poster itu sudah diketahui yang ternyata mahasiswa, dan mereka yang bertanggung jawab sudah menghadap Dekan FISIP dan Rektor Undip untuk meminta maaf atas tindakan yang dilakukan.

Dari penelusuran pihak kampus, agenda kegiatan yang disebutkan dalam poster itu merupakan seminar yang akan rencananya digelar Sabtu (20/5) di depan Gedung A FISIP Undip, namun ternyata masih merupakan wacana.

"Mengenai kegiatan ini, hanya dirapatkan beberapa pengurus BEM. Ada lima orang, tetapi tidak dilaporkan ke BEM. Namun, salah satunya secara pribadi memasang poster dan spanduk tanpa izin dan koordinasi," katanya.

Akan tetapi, ia menyampaikan kegiatan yang rencananya digelar mahasiswa itu tidak ada maksud melecehkan simbol negara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sejauh ini juga belum ada rekomendasi kegiatan.

Mengenai pemasangan poster, kata dia, dari pengakuan pemasang poster sebenarnya mereka bermaksud menarik perhatian dengan membuat penasaran agar banyak yang datang, tetapi tidak menyadari konsep posternya menimbulkan persoalan.

"Ini hanya untuk memancing perhatian dengan poster dan gambar-gambar provokatif. Tetapi, tidak ada satu pun makna dan niat untuk melecehkan simbol negara. Katanya, acara ini untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional," katanya.

Meski demikian, Zainuri menyayangkan dan merasa prihatin terhadap apa yang dilakukan mahasiswa bersangkutan karena poster itu menimbulkan penafsiran bermacam-macam, termasuk penafsiran pelecehan terhadap lambang negara. 

Editor: Mahmudah

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca